Karhutla di Mana-Mana, Dampak ke Mana-Mana

19 October 2026 23:59

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan selama berbulan-bulan telah memicu dampak kesehatan yang mengkhawatirkan. Kementerian Kesehatan mencatat hingga 13 Oktober, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) telah menembus lebih dari 283.000 kasus di tujuh provinsi terdampak, dengan lebih dari 63.000 korban di antaranya merupakan balita.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan (Kapus Datinkom) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton Panjaitan memaparkan bahwa lamanya proses pemadaman dipengaruhi oleh kekeringan ekstrem akibat fenomena El Nino serta karakteristik lahan gambut yang membara di bawah permukaan tanah. Total luas lahan terbakar yang tercatat dari data Sipongi Kementerian Kehutanan dan akumulasi pemadaman BNPB diperkirakan telah melampaui 139.000 hektare di seluruh Indonesia.

Kendala Pasokan Air dan Karakter Lahan Gambut


Tantangan berat dialami oleh Satuan Tugas (Satgas) Darat di daerah. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Musi Banyuasin, Marko Susanto, mengungkapkan bahwa di wilayahnya tercatat hampir 3.500 titik api sejak musim kemarau, sebanding dengan kondisi karhutla pada 2019. Selain terkendala jarak dan ketersediaan sumber air yang mengering, kebiasaan sebagian masyarakat membuka lahan dengan cara membakar dengan alasan efisiensi biaya masih menjadi pemicu utama timbulnya titik api baru.

"Karakter masyarakat ini yang saya maksud itu Pak, dengan cost yang begitu murah mereka ingin membuka lahan dengan cost yang murah sehingga bisa digunakan uangnya, cara cepat mereka gunakan adalah dengan cara membakar yang tentunya ini jadi PR kita bersama ke depan," ucap Marko, dikutip dari tayangan Top Issue, Metro TV, Senin, 19 Oktober 2026.

Di sisi lain, relawan pemadam karhutla di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Andie Jurka, menyoroti minimnya ketersediaan sumur bor aktif di lokasi rawan bencana yang menyulitkan pasokan air bagi satgas darat.

"Kalau tidak ada sumur bor susah, paling tidak di beberapa titik rawan terjadi kebakaran harus ada ketersediaan sumur bor yang aktif sehingga teman-teman relawan ketika melakukan pemadaman tidak kesulitan menemukan sumber air," tutur Andi.
   

Lonjakan Kasus ISPA pada Bayi dan Anak-Anak


Dampak paparan asap pekat yang mengandung partikel berbahaya PM 2,5 sangat dirasakan oleh fasilitas kesehatan di daerah. Dokter Spesialis Paru RSUD Doris Silvanus Palangka Raya, dr. Itna Warnida, mengungkapkan terjadi lonjakan signifikan pada pasien rawat jalan akibat keluhan pernapasan. Kasus ISPA pada kelompok bayi dan balita melesat hingga lebih dari 300 persen, sementara pada anak berusia di atas 5 tahun melonjak lebih dari 200 persen.

"Anak-anak akan lebih rentan karena yang pertama daya tahan parunya masih tidak sebagus dewasa. Yang kedua anak-anak itu bernapas normalnya lebih cepat daripada dewasa, otomatis mereka juga lebih banyak terhirup udara yang tercemar ini," jelas dr. Itna Warnida.

dr. Itna juga mengimbau agar pemerintah memastikan ketersediaan masker standar penyaring partikel mikro seperti N95 atau KN95 bagi nakes, relawan, dan masyarakat, serta memprioritaskan ketersediaan rumah oksigen.

Evaluasi Penanganan dan Uji Coba Teknologi


Mengenai wacana penetapan status Bencana Nasional, BNPB menjelaskan bahwa pemerintah saat ini masih berpedoman pada kriteria teknis sesuai regulasi dan keputusan Mahkamah Konstitusi. Menurut BNPB, penanganan saat ini telah dilakukan secara masif melalui koordinasi lintas kementerian, lembaga, TNI-Polri, hingga elemen masyarakat.

"Bukan statusnya yang perlu kita lihat tetapi upaya pemerintah yang sudah secara nasional dilakukan, kementerian lembaga bergerak, TNI-Polri bergerak, kemudian NGO dan masyarakat bergerak. Ini sudah upaya yang sangat masif dilakukan dan kita masih mampu tetap untuk melaksanakan berbagai upaya untuk penanggulangan karhutla ini," ucap Berton.

Guna mengatasi keterbatasan operasional helikopter water bombing akibat tebalnya kabut asap yang memperpendek jarak pandang (visibility), BNPB tengah menguji coba sejumlah inovasi teknologi, termasuk penggunaan gel anti-chasing, cairan surfaktan, hingga penaburan dry ice untuk membuka lapisan inversi asap di atmosfer.

(Nopita Dewi)


Close Ads X
Close Ads X