Warga Lebanon Tolak Negosiasi dengan Israel

13 April 2026 13:23

Ribuan warga turun ke jalan di Beirut untuk memprotes rencana negosiasi pemerintah Lebanon dengan Israel. Aksi ini dipicu langkah Perdana Menteri Nawaf Salam yang tetap bersikukuh melanjutkan perundingan demi mengakhiri konflik, meski mendapat penolakan keras dari masyarakat.

Di pusat kota, massa membakar foto Nawaf Salam dan menuduh pemerintah mengkhianati rakyat. Kemarahan publik dipicu oleh penderitaan panjang akibat perang, termasuk korban jiwa dan kehancuran permukiman. Sejumlah pihak juga memperingatkan bahwa mengabaikan peran Hizbullah dalam proses negosiasi berpotensi memicu krisis keamanan yang lebih besar.

Di tengah tekanan tersebut, Nawaf Salam menegaskan bahwa negosiasi merupakan satu-satunya jalan untuk menghentikan perang. 

"Saya merasakan kepedihan ibu yang kehilangan putranya yang berjuang di garis depan, seperti halnya saya merasakan kepedihan ibu yang kehilangan anaknya yang tidak memilih perang ini dan hanya ingin hidup. Saya tahu bahwa kalian semua menderita, lebih dari yang dapat ditoleransi, dan untuk waktu yang lama. Kami akan terus berupaya untuk mengakhiri perang terutama inisiatif yang disampaikan oleh Presiden Joseph Aoun untuk menegosiasikan gencatan senjata dan memungkinkan lembaga-lembaga negara yang sah untuk sepenuhnya menjalankan peran mereka dalam melindungi Lebanon dan seluruh rakyatnya," ujar Nawaf Salam, dikutip dari tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Senin 13 April 2026. 
 



Pertemuan perdana dijadwalkan berlangsung di Washington, D.C. dengan mediasi AS. Lebanon disebut akan mengajukan tuntutan utama, mulai dari gencatan senjata total, penarikan pasukan Israel, hingga pembebasan tahanan dan pemulangan pengungsi.

Namun di lapangan, situasi justru semakin memanas. Serangan masih terus terjadi, terutama di wilayah selatan Lebanon yang berbatasan dengan Israel. Meski serangan udara ke Beirut mulai mereda, intensitas konflik di garis depan meningkat seiring serangan roket dan operasi militer yang terus berlanjut.

Sementara itu, warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Lebanon juga terdampak situasi ini. Sejumlah WNI dilaporkan telah dievakuasi ke tempat perlindungan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Pemerintah Indonesia mengimbau seluruh WNI untuk menjauhi wilayah konflik dan titik-titik demonstrasi demi menjaga keselamatan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Reno Panggalih Nuha Lathifah)