Madinah: Suhu udara yang panas dan kering di Madinah menjadi tantangan serius bagi calon jemaah haji Indonesia, terutama bagi kelompok lanjut usia (lansia) dan penyandang disabilitas. Kondisi cuaca ekstrem ini berpotensi menyebabkan kelelahan hingga dehidrasi jika tidak diantisipasi dengan baik.
Memasuki hari ke-12 masa operasional haji, puluhan ribu jemaah Indonesia telah tiba di Tanah Suci. Pada hari ini saja, tercatat sebanyak 19 kelompok terbang (kloter) dijadwalkan tiba di Madinah.
Perbedaan cuaca yang cukup signifikan antara Indonesia dan Arab Saudi menjadi perhatian utama. Suhu di Madinah pada siang hari mencapai sekitar 36–37 derajat Celsius, bahkan diperkirakan meningkat hingga 40 derajat Celsius dalam beberapa hari ke depan, dengan tingkat kelembapan yang sangat rendah.
Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi pun terus mengintensifkan edukasi kepada jemaah agar menjaga kondisi kesehatan selama menjalankan ibadah.
Petugas Promosi Kesehatan
PPIH Arab Saudi, Ririn Suryani, mengingatkan bahwa kondisi cuaca panas dan kering dapat meningkatkan risiko dehidrasi, terutama bagi jemaah lansia.
“Untuk kondisi cuaca, suhu bisa mencapai 37 derajat Celsius pada siang hingga sore hari, dengan kelembapan yang sangat rendah. Ini bisa menyebabkan kulit semakin kering dan berisiko memicu dehidrasi, terutama bagi jemaah lansia,” ujar Ririn.
Ia juga menekankan pentingnya membatasi aktivitas di luar ruangan, khususnya pada siang hari saat suhu sedang tinggi.
“Untuk jemaah yang banyak beraktivitas di luar ruangan, sebaiknya dikurangi agar tidak mengalami kelelahan dan dehidrasi,” kata Ririn, melanjutkan.
Selain itu,
jemaah diimbau untuk memperbanyak konsumsi cairan guna menjaga keseimbangan tubuh. Ketersediaan air minum di Tanah Suci diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh para jemaah.
“Kami menyarankan untuk lebih banyak minum air putih, sekitar 200 mililiter setiap jam. Bisa juga ditambahkan oralit satu sachet per hari untuk membantu mencegah dehidrasi,” jelas Ririn.
Ririn juga mengingatkan jemaah untuk mengenali tanda-tanda dehidrasi sejak dini, salah satunya melalui perubahan warna urine.
“Tanda dehidrasi bisa dilihat dari urine yang berwarna kuning pekat. Jika itu terjadi, segera tingkatkan konsumsi air putih,” ujar Ririn.
Bagi jemaah yang tetap harus beraktivitas di luar ruangan, penggunaan perlengkapan pelindung diri sangat dianjurkan untuk mengurangi dampak paparan panas.
“Jika beraktivitas di luar, sebaiknya menggunakan pelindung seperti topi, payung, kacamata hitam, dan masker agar terhindar dari dehidrasi,” katanya.
Dengan kondisi cuaca yang cukup ekstrem, petugas PPIH berharap seluruh jemaah dapat menjaga kesehatan secara optimal agar rangkaian
ibadah haji di Tanah Suci dapat berjalan dengan aman, lancar, dan khusyuk.