10 March 2026 22:36
Eskalasi konflik di Timur Tengah telah memicu krisis energi global setelah jalur perdagangan vital di Selat Hormuz lumpuh. Kapal-kapal yang membawa sekitar 20 juta barel minyak per hari dilaporkan terdampar di Teluk Persia karena tidak dapat melintas dengan aman, yang berdampak langsung pada lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) di berbagai belahan dunia.
Kondisi ini memburuk sepekan setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran. Serangan rudal dan pesawat tak berawak di kawasan tersebut tidak hanya merusak fasilitas minyak dan gas utama, tetapi juga menciptakan ketidakpastian pasokan dari produsen minyak terbesar dunia.
Pada Senin kemarin, 9 Maret 2026, harga minyak mentah dunia menyentuh angka 117 dolar AS per barel. Para ahli memperingatkan bahwa tren kenaikan ini belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti selama jalur distribusi masih terganggu.
Kenaikan harga ini dirasakan langsung oleh para pengemudi di California menghadapi harga bensin tertinggi sejak 2012. Hal serupa juga dirasakan warga Los Angeles dan Orange County, di mana harga BBM telah melampaui 5 dolar per galon. Hal ini memaksa warga mengantre hingga 30 menit di SPBU murah seperti Costco untuk menghemat biaya.
| Baca juga: Pemerintah Pastikan Stok BBM Aman, Masyarakat Tak Perlu Panic Buying |