TKD Sehate Sulap TPS Jadi Kebun Organik

26 July 2026 14:12

Di tengah keterbatasan lahan perkotaan, masyarakat dituntut kreatif dalam menciptakan kemandirian pangan. Hal inilah yang dibuktikan oleh warga Kelurahan Tegallega, Kota Bogor, melalui Kelompok Tani Dewasa (KTD) Sahate. Mereka berhasil mengubah lahan bekas pembuangan sampah menjadi kebun urban farming yang hijau dan produktif.

Berawal dari keprihatinan terhadap lingkungan yang kotor dan kumuh, Luky Irawan, penggerak KTD Sahate sekaligus Ketua RW setempat, menginisiasi gerakan gotong royong. Lahan seluas 200 meter persegi yang tadinya menjadi titik pembuangan sampah kini bertransformasi menjadi "Rumah Benih" yang menghasilkan berbagai kebutuhan pangan.

"Wilayah ini dulu kumuh, bau pesing, dan banyak pembuangan sampah. Dari situ saya bersama teman-teman tercetus ide untuk menghijaukan daerah ini dengan kerja bakti," kata Penggerak KTD Sahate sekaligus Ketua RW, Luky Irawan, dikutip dari tayangan Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Minggu, 26 Juli 2026.

Pertanian Organik dan Pemanfaatan Barang Bekas


Dengan semangat 'Sahate' yang berarti 'Satu Hati', kelompok tani ini fokus pada pemberdayaan masyarakat melalui pertanian organik. Mereka menggunakan pupuk kandang dari kambing dan ayam, serta menghindari penggunaan bahan kimia.

Keterbatasan lahan tidak menjadi penghalang. Anggota KTD Sahate, Agus Irawan, menjelaskan bahwa mereka memanfaatkan galon air mineral bekas dan polibag sebagai media tanam. Berbagai komoditas mulai dari pakcoy, sawi, seledri, cabai, hingga padi berhasil dibudidayakan di lahan sempit tersebut.

"Kendala utama memang di lahan dan media tanam karena kami butuh banyak tanah. Tapi kami siasati dengan barang bekas seperti galon untuk menanam padi," ucap Agus.
   

Solusi Ketahanan Pangan dan Pencegahan Stunting


Hasil panen dari KTD Sahate tidak hanya dikonsumsi sendiri atau dijual, tetapi juga memiliki misi sosial. Sebagian hasil panen dibagikan kepada warga sekitar sebagai upaya mendukung program pemerintah dalam pencegahan stunting melalui pemberian asupan sayuran segar berkualitas.

Selain itu, KTD Sahate juga mulai merambah ke sektor ekonomi dengan menjual bibit tanaman melalui media sosial dan marketplace, serta menyuplai warung-warung di sekitar kelurahan.

Kualitas sayuran yang dihasilkan pun mendapat apresiasi dari konsumen. "Jujur ini keren banget. Di tengah kota ada urban farming dengan hasil yang luar biasa, seperti seledri yang besar-besar. Harapannya ini bisa memenuhi kebutuhan seluruh warga sekitar," ungkap Tenny Chrisna, salah seorang konsumen.

Dukungan Pemerintah dan Rencana Kampung Wisata


Keberhasilan ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota Bogor. Lurah Tegallega, Hardi Suhardiman, menyatakan pihaknya telah memfasilitasi legalitas kelompok berupa Surat Keputusan (SK) dan Nomor Induk Berusaha (NIB).

Hardi memproyeksikan KTD Sahate akan menjadi bagian penting dari pengembangan "Kampung Wisata Inovasi dan Edukasi" di Kelurahan Tegallega.

"Kami mendukung penuh karena ini adalah pemberdayaan masyarakat yang sangat positif. Ke depan, kami ingin masyarakat yang datang ke sini tidak hanya berkunjung, tetapi juga belajar cara bertani di lahan sempit yang produktif bagi keluarga," pungkas Hardi.

Inisiatif KTD Sahate menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan lahan bukan alasan untuk tidak produktif. Semangat gotong royong dan inovasi mampu menciptakan ketahanan pangan mulai dari lingkungan terkecil.

(Nopita Dewi)


Close Ads X
Close Ads X