15 April 2026 15:03
Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) kembali berada di bawah tekanan. Pada penutupan perdagangan Selasa sore, Rupiah melemah hingga menyentuh level Rp17.122 per USD. Menjadikannya salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia.
Tekanan terhadap Rupiah disebut berasal dari faktor domestik. Salah satunya penurunan cadangan devisa. Kondisi ini turut memicu sentimen negatif di pasar, sehingga memperlemah posisi rupiah di tengah dinamika global yang masih bergejolak.
Meski demikian, pada pembukaan perdagangan hari berikutnya, Rupiah menunjukkan sedikit penguatan. Mata uang Garuda dibuka pada level Rp17.123 per USD, atau menguat tipis sekitar 0,02 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Merespons kondisi tersebut, Bank Indonesia (BI) memastikan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar dengan mengoptimalkan berbagai instrumen moneter. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa bank sentral kini siaga penuh 24 jam dalam memantau dan mengintervensi pasar.
“Kami akan mengoptimalkan semua instrumen operasi moneter yang kami miliki. Jadi yang sekarang ini yang terus dilakukan oleh kami adalah secara terukur, terus menerus ya, dan juga timely. Kami lihat timing-nya. BI akan terus berada di market,” ujarnya, dikutip dari tayangan Zona Bisnis Metro TV, Rabu 15 April 2026.