Jakarta: Dari lima negara pendiri hingga kini berkembang menjadi organisasi yang menaungi 11 negara, ASEAN telah melewati perjalanan panjang selama hampir enam dekade. Lahir di tengah situasi Perang Dingin, ASEAN kini tidak hanya menjadi wadah kerja sama negara-negara Asia Tenggara, tetapi juga berkembang menjadi salah satu kekuatan ekonomi yang diperhitungkan di dunia.
Pada 8 Agustus 2026, ASEAN genap berusia 59 tahun. Di usia yang mendekati enam dekade, ASEAN menghadapi tantangan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga stabilitas kawasan di tengah dinamika geopolitik global.
Dari 5 Jadi 11 Negara
ASEAN didirikan pada 8 Agustus 1967 melalui Deklarasi Bangkok yang ditandatangani oleh lima negara pelopor.
Kelima negara tersebut adalah:
- Filipina: Narciso Ramos
- Indonesia: Adam Malik
- Thailand: Thanat Khoman
- Malaysia: Tun Abdul Razak
- Singapura: S. Rajaratnam
Pada awal pembentukannya,
ASEAN ditujukan untuk memelihara stabilitas regional di tengah dinamika Perang Dingin.
Seiring berjalannya waktu, keanggotaan ASEAN terus bertambah. Brunei Darussalam bergabung pada 1984, kemudian Vietnam pada 1995. Laos dan Myanmar menyusul pada 1997, sementara Kamboja bergabung pada 1999. Perkembangan terbaru terjadi pada 2025 ketika Timor-Leste resmi diterima sebagai anggota ke-11 ASEAN.
Memasuki usia 59 tahun,
ASEAN telah berkembang menjadi kawasan dengan kekuatan ekonomi yang besar. ASEAN kini menaungi sekitar 690 juta penduduk dengan produk domestik bruto atau PDB gabungan mencapai sekitar USD3,9 triliun pada 2024. Angka tersebut menempatkan ASEAN sebagai kekuatan ekonomi terbesar kelima di dunia.
Pertumbuhan ekonomi kawasan juga diproyeksikan berada di kisaran 4,5 hingga 4,7 persen pada 2026. Integrasi ekonomi yang semakin erat turut mendorong konektivitas antarnegara, mobilitas tenaga kerja profesional, serta ekspansi perdagangan di kawasan Asia Tenggara.
Meski memiliki kekuatan ekonomi yang besar, ASEAN masih menghadapi sejumlah persoalan yang menguji soliditas kawasan. Salah satunya adalah krisis politik Myanmar. Konflik politik dan kemanusiaan yang berlangsung setelah kudeta militer pada 2021 masih menjadi pekerjaan rumah bagi ASEAN. Upaya penyelesaian melalui 5-Point Consensus juga belum menunjukkan kemajuan signifikan dalam memulihkan perdamaian di Myanmar.
Selain itu, ASEAN juga harus menghadapi persaingan geopolitik antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Rivalitas kedua negara tersebut berdampak pada berbagai sektor, mulai dari ekonomi dan perdagangan hingga keamanan kawasan. Situasi tersebut membuat ASEAN dituntut mempertahankan prinsip netralitas sekaligus menjaga sentralitas kawasan agar tidak terseret ke dalam persaingan blok kekuatan besar.
Sengketa Laut Tiongkok Selatan
Persoalan lain yang masih menjadi perhatian adalah sengketa Laut Tiongkok Selatan. Sejumlah negara ASEAN, seperti Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Brunei Darussalam, memiliki klaim wilayah yang bersinggungan dengan Tiongkok. Untuk menjaga keamanan dan stabilitas kawasan,
ASEAN terus mendorong perumusan Code of Conduct (CoC) sebagai aturan bersama di kawasan tersebut.
Memasuki dekade keenam, ASEAN tidak hanya dituntut mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, tetapi juga memperkuat kemampuan diplomasi dan stabilitas kawasan. Solidaritas antarnegara anggota menjadi salah satu kunci agar ASEAN mampu menghadapi ketidakpastian geopolitik global tanpa kehilangan peran strategisnya di kawasan.