2 October 2026 22:02
Banjarmasin: Penyelam SAR gabungan menghadapi berbagai tantangan dalam proses evakuasi korban KM Virgo Transport 8. Selain harus menyisir kapal di kedalaman hingga 30 meter, para penyelam juga menghadapi arus deras, gelombang tinggi, jarak pandang terbatas, hingga risiko decompression sickness atau dekompresi.
Amran, salah satu penyelam SAR, mengatakan sudah delapan hari terlibat dalam operasi pencarian dan evakuasi korban KM Virgo. Menurutnya, kondisi cuaca dan arus menjadi tantangan utama selama bertugas di perairan Masalembo.
“Tentunya dari cuaca ya, arusnya juga kencang, terus gelombang saat kita masuk sama keluar dari air, kemudian visibilitas, jarak pandang di bawah, kemudian pecahan kaca yang kita pecahkan itu kadang juga melengket di wetsuit,” ujar Amran dalam tayangan Metro Siang Metro TV, Jumat 2 Oktober 2026.
Dalam penyelaman, Amran mengatakan dirinya juga harus memecahkan kaca kapal yang belum pecah sebelum masuk ke bagian dalam. Namun, jangkauan penyelaman ke dalam kapal terbatas.
“Saya sudah 8 hari saya di sini melaksanakan operasi penyelamatan di kapal KM Virgo. Untuk kegiatan saya setiap hari itu cuma mengawasi dari luar, jika ada kaca yang belum pecah saya akan pecahkan kacanya, terus untuk masuk ke dalam untuk sebatas cuma jangkauan tangan saja,” katanya.
Kondisi di dalam kapal yang gelap dan memiliki jarak pandang terbatas membuat pencarian korban semakin sulit. Amran mengatakan pada pencarian sebelumnya dirinya hanya melihat satu korban yang kemudian dievakuasi oleh tim lain.
“Untuk kemarin kami perhatikan korbannya sudah nggak terlalu kelihatan jelas, kebetulan cuma lihat satu aja kemarin kami dan dievakuasi sama tim yang lain,” tutur Amran.
Sementara itu, Agung yang juga menjadi bagian dari tim penyelam SAR mengungkapkan tantangan lain yang dihadapi saat berada di kedalaman laut. Tekanan air membuat penyelam menghadapi risiko dekompresi yang dapat membahayakan keselamatan.
Agung mengatakan dirinya telah hampir dua pekan mengikuti operasi evakuasi korban KM Virgo. Selama bertugas, kondisi arus dan gelombang menjadi tantangan sejak perjalanan menuju titik kapal tenggelam.
“Di tempat kejadian sekarang ini mungkin tantangannya pertama kita dari KN SAR Purworejo menuju ke titik lokasi KM Virgo tenggelam itu mungkin arus dan gelombangnya,” ujar Agung.
Menurut Agung, kondisi di bawah air sangat bergantung pada cuaca. Saat arus bawah laut menguat, penyelam harus berpegangan pada tali yang telah dipasang tim untuk membantu pergerakan di sekitar lokasi kapal.
“Kalau di bawah air itu mungkin kalau pas cuaca bagus ya Alhamdulillah kita bisa jangkauannya enak, tapi kalau pas kita arusnya bawah airnya kencang ya kita dengan pegangan tali yang sudah dipasang sama temen-temen kemarin itu aja,” katanya.
Di tengah risiko tersebut, dukungan keluarga menjadi salah satu kekuatan bagi Amran dan Agung. Amran mengaku semangat dari istri dan anaknya membuatnya tetap menjalankan misi kemanusiaan tersebut.
Agung juga mengatakan keluarganya terus mendukung dan mendoakan tim penyelam SAR gabungan agar dapat mengevakuasi korban dan mengembalikannya kepada keluarga.
“Ya Alhamdulillah keluarga mendukung dan mendoakan semoga kita yang sebagai penyelam-penyelam SAR gabungan ini semua bisa menyelamatkan apa evakuasi korban dan bisa membawa korban itu kembali kepada keluarganya,” ujar Agung.
Amran dan Agung berharap operasi pencarian dan evakuasi KM Virgo Transport 8 dapat berjalan lancar sehingga seluruh korban yang masih berada di dalam kapal dapat ditemukan dan dievakuasi.