Jakarta: Sepinya Hormuz bukan berita baik untuk kita karena berarti ada tagihan mahal yang harus dibayar oleh ekonomi secara global. Jadi, the price of silence dan juga efek domino dari jalur energi yang paling penting ini berhenti beroperasi.
Dampaknya nggak cuma soal bensin yang mahal tapi juga akan merembet kemana-mana. Mulai dari harga pangan naik karena krisis pupuk sampai produksi gadget yang terhambat karena gas industri langka.
Sektor energi global
Yang pertama, bagaimana dampak penutupan Selat Hormuz pada bulan Maret sampai April 2026 yang menandai terjadinya disrupsi energi terbesar di sejarah dan melampaui
krisis energi di tahun 1970-an.
Jadi sebagai titik sumbat atau choke point yang paling kritikal di dunia, penghentian arus lalu lintas di selat ini secara instan menghilangkan seperempat pasokan minyak global dari pasar yang memicu kepanikan pada bursa komoditas internasional. Penyaluran minyak mentah ini sekitar 20 juta barrel perharinya atau sekitar 25% perdagangan minyak mentah dunia ini terhenti karena ditutupnya Selat Hormuz.
Kemudian yang kedua terkait dengan pasokan LNG atau gas alam cair. Ini 20% pasokan global terutama dari Qatar dan Uni Emirat Arab. Ini terjebak atau berhenti di sana sehingga ini menyebabkan harga gas di Asia dan juga Eropa melonjak secara signifikan. Selain itu poin yang ketiga ini juga menjadi fokus dari global termasuk Indonesia terkait dengan lonjakan harga minyak mentah brand yang mana kalau Anda ingat pemirsa saat itu harga minyak mentah brand sempat menyentuh level 120 dolar per barrel.
Ini merupakan rekor tertinggi dalam 4 tahun terakhir. Yang mana pemirsa kalau kita melihat dari ketiga point ini destinasi utama 80 sampai 89 kargo energi yang melalui Selat Hormuz ini ditujukan untuk pasar Asia terutama di China, India, Jepang, dan juga Korea Selatan. Dengan melihatnya ketergantungan negara-negara Asia terhadap jalur Selat Hormuz ini membuat kawasan kita menjadi yang paling rentan dengan deklarasi force major dari produsen besar seperti Qatar Energy.
Ketahanan energi nasional di berbagai negara kini berada dalam status waspada tinggi karena cadangan minyak mentah strategis hanya mampu bertahan untuk beberapa bulan ke depan tanpa adanya jalur alternatif yang memadai pemirsa. Ini yang pertama terkait minyak dan juga LNG tapi tidak sampai sini saja pemirsa karena masih ada turunannya atau ini yang menjadi efek rambatan dari ditutupnya Selat Hormuz. Di slide selanjutnya kita akan melihat bagaimana dampak penutupan Selat Hormuz.
Krisis turunan
Ini merambat cepat melampaui sektor bahan bakar masuk ke tahanan pangan global melalui krisis pupuk. Memang, Timur Tengah bukan sekedar produsen energi tapi ini juga menjadi hub utama bahan kimia pertanian. Dengan kelangkaan LPG ini kawasan Teluk memasuk 1,5 hingga 2 juta barrel LPG perharinya sehingga dampaknya sangat terasa pada sektor rumah tangga terutama pemirsa ada dua yang pertama di India dan juga di Asia Tenggara yang sangat bergantung.
Kemudian selanjutnya terkait dengan dominasi pupuk terutama untuk Urea dan juga Ammonia. Ini sekitar 30 sampai 35 persen perdagangan Urea dan juga Ammonia global. Ini melewati Selat Hormuz.
Tidak sampai sini saja terkait dengan ketergantungan Urea yang mana ini mencapai 46 persen dari total perdagangan Urea dunia yang berasal dari kawasan Selat Hormuz dan ini mengancam musim tanam terutama ada dua negara pemirsa karena yang sangat bergantung adalah Brasil dan juga India. Tidak hanya Urea, Sulfur ini juga sebagai produk sampingan yang mana 50 persen ekspor Sulfur dunia terhenti karena penutupan Selat Hormuz ini melumpuhkan produksi pupuk fosfat secara global pemirsa. Dengan adanya empat komoditas ini terhentinya pasokan Urea dan juga Ammonia.
Ini menyebabkan biaya input pertanian kembali naik dan ini diprediksi akan memicu inflasi harga pangan atau agriflasi yang secara signifikan dalam beberapa bulan ke depan. Karena selain pupuk, krisis LPG juga menciptakan masalah sosial terutama di negara-negara yang sangat bergantung pada impor untuk kebutuhan memasak di rumah tangga. Sehingga pemirsa kelangkaan pasokan memaksa terjadinya kenaikan harga eceran yang sangat drastis di beberapa negara sehingga beban ekonomi masyarakat bawah ini justru meningkat tajam di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih terus berlangsung.
Tidak hanya terkait dengan sektor rumah tangga yang berasal dari pupuk dan juga dari LPG pemirsa. Kita juga akan melihat ini terkait dengan sektor kesehatan karena ini dari MRI, kemudian produksi gadget ini juga akan terdampak karena penutupan selat hormus. Sektor manufaktur global juga menghadapi tantangan berat karena terputusnya aliran bahan baku petrokimia dari Selat Hormus.
Kita lihat setidaknya ada tiga yang pertama bahan baku plastik atau nafta dan polimer ini terhentinya 24% ekspor nafta global dan pabrik petrokimia di Korea Selatan dan Jepang ini akhirnya mereka harus membangkas produksi hingga 50%. Bahkan di Indonesia dalam dua pekan terakhir kita juga sudah melihat bagaimana kenaikan harga plastik bisa mencapai 50 hingga 100%. Jadi tidak hanya nafta dan polimer yang juga memicu kenaikan harga plastik, selanjutnya dari logam industri ataupun aluminium.
Disrupsi sektor manufaktur
Gangguan ekspor dari produsen besar di Timur Tengah ini memicu volatilitas harga di London Metal Exchange atau LME yang menjadi patokan pemirsa. Kemudian kita juga akan melihat bagaimana helium ataupun gas khusus. 30% kapasitas produksi helium dunia ini berasal dari Qatar dan akhirnya harus terhenti sementara sehingga ini mengancam industri medis atau MRI dan juga manufaktur semikonduktor.
Kalau kita melihat dari sini pemirsa efek domino industri kenaikan biaya produksi pada komponen otomotif, kemasan pangan dan juga terjadi kenaikan pada perangkat elektronik. Jadi tidak hanya inflasi saja pada pangan tapi juga melihat bagaimana ke depannya untuk harga komponen otomotif, kemasan pangan dan juga perangkat elektronik ini akan naik secara signifikan. Memang nafta dan juga polimer yang menjadi tulang punggung industri plastik dan juga otomotif ini mengalami kelangkaan akut dan ini memaksa pusat-pusat industri di Asia Timur untuk mengurangi kapasitas operasional mereka secara drastis upaya efisien biayanya.
Dan lebih jauh lagi gangguan pada pasokan helium global ini menyoroti betapa rapuhnya kalau rantai pasok teknologi kita ini. Dengan sepertiga pasokan helium dunia terjebak di balik blokade ataupun di selat hormus, industri strategis seperti pembuatan chip semikonduktor dan peralatan medisi yang canggih kini menghadapi resiko shutdown teknis yang pada akhirnya dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi secara global secara keseluruhan di tahun 2026. Itu dia tadi berbagai komoditas energi yang terdampak karena penutupan dari selat hormus.
Tidak hanya pada sektor bensin saja yang kita saat ini saksikan bersama di beberapa negara sudah mengalami kenaikan tapi di dalam negeri kita sudah melihat harga kenaikan plastik dan ini juga akan berdampak pada pangan nantinya terutama dari sisi pupuk yang ternyata juga terimbas dari sisi otomotif juga terimbas dan juga gadget bahkan dari sisi semikonduktor ini juga terimbas dan kita akan lihat bagaimana kenaikannya pada beberapa bulan ke depan.