Karhutla Makin Meluas, Kualitas Udara di Palangka Raya Masuk Kategori Tidak Sehat

1 September 2026 18:46

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah di Kalimantan, khususnya Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, semakin meluas. Kondisi ini mengakibatkan kualitas udara memburuk drastis, mengganggu aktivitas ekonomi, hingga memaksa ribuan siswa kembali belajar dari rumah.

Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Palangka Raya, Kalimantan Tengah telah menyentuh angka 202 yang berarti "Tidak Sehat". Akibat pekatnya kabut asap, otoritas pendidikan setempat memberlakukan kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Salah satunya di SDN 1 Panarung yang sudah merumahkan siswanya sejak Jumat, 28 Agustus 2026.

"Di SDN 1 Panarung ini sudah mulai melaksanakan PJJ ini dari hari Jumat, sesuai arahan dari Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya. Jadi Jumat, kemudian Sabtu kemarin kan tidak sekolah," ujar salah satu guru SDN 1 Panarung, Lampung dalam tayangan Metro Hari Ini Metro TV, Selasa, 1 September 2026. 

Kondisi lebih memprihatinkan terjadi di Kotawaringin Timur, di mana kualitas udara sempat menyentuh angka 781, masuk dalam kategori "Berbahaya".
 


Dampak Ekonomi dan Kesehatan

Kabut asap juga melumpuhkan aktivitas di Pasar Terapung Lok Baintan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Jarak pandang yang sangat terbatas di atas sungai menyulitkan pedagang yang menggunakan perahu jukung untuk beraktivitas. Selain risiko kecelakaan air, para pedagang mulai mengeluhkan gangguan kesehatan seperti flu dan sesak napas.

Sektor kesehatan mencatat lonjakan tajam kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Rumah Sakit Ratu Zalecha Martapura melaporkan telah menangani 326 pasien ISPA sepanjang Juni hingga Agustus 2026. Sementara itu, RSUD dr. Murjani Sampit mencatat 214 kasus hingga bulan Agustus.

Lonjakan drastis juga dirasakan di Puskesmas Baamang 1, Kotawaringin Timur. "17 orang dan sekarang sudah meningkat menjadi 27 orang untuk kejadian kasus ISPA ini. Dan gejalanya seperti pusing, batuk, pilek, itu adalah gejala khas dari ISPA. Ini yang masuk dalam penanganan kami untuk penderita ISPA itu. Sampai pada hari ini kami juga sudah ada edaran bahwa Puskesmas sudah siaga 24 jam untuk menangani masyarakat yang memang memerlukan," kata Kepala Puskesmas Baamang 1, Fuji Wahyudi.

Otoritas kesehatan mengimbau masyarakat, terutama orang tua, untuk membatasi aktivitas anak-anak di luar rumah. Warga diminta selalu menggunakan masker dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala batuk, pilek, pusing, atau sesak napas akibat terpapar asap pekat.

(Firny Firlandini Budi)


Close Ads X
Close Ads X