24 January 2026 18:46
Berangkat dari keresahan akan minimnya produk fesyen berbahan tenun di Kota Makassar serta keinginan mendekatkan budaya lokal kepada generasi muda, seorang anak muda asal Makassar merintis usaha fesyen etnik berbasis tenun Sulawesi Selatan bernama Maskerade.
Usaha ini dirintis sejak 2017 oleh Nana Ibrahim, yang saat itu baru menyelesaikan pendidikan dan belum memiliki pekerjaan tetap. Berbekal hobi mengoleksi kain tenun dari berbagai daerah, Nana melihat kenyataan bahwa produk fesyen berbahan tenun sangat sulit ditemukan di Makassar.
“Waktu itu saya hobi mengoleksi kain tenun dari Toraja, NTB, dan NTT. Tapi di Makassar sendiri justru susah cari produk fesyen dari tenun,” ujar Nana.
Dari kegelisahan tersebut, ia mulai memproduksi pakaian secara mandiri dengan mengusung konsep etnik yang dikemas lebih modern, agar dapat diterima oleh anak muda. Sejak awal berdiri, Maskerade membawa visi mengedukasi generasi muda agar mau mengenakan produk lokal tanpa merasa ketinggalan zaman.
Upaya tersebut bukan tanpa tantangan. Pada awal berdiri, minat anak muda terhadap fesyen etnik masih tergolong rendah dan identik dengan kesan kuno. Namun, Maskerade perlahan mematahkan stigma tersebut lewat desain kontemporer tanpa meninggalkan identitas budaya Sulawesi Selatan.
Seiring perkembangan usaha, produk Maskerade semakin beragam. Tidak hanya pakaian seperti outer dan kaos, tetapi juga berbagai aksesori dan produk kerajinan tangan. Ciri khas Maskerade terletak pada penggunaan tenun Toraja, proses produksi handmade, serta kuatnya identitas Makassar dan Sulawesi Selatan.
| Baca juga: MBG Dinilai Jadi Suplemen Bagi Dunia Pendidikan |