15 September 2026 17:38
Jakarta: Tenggelamnya sebuah kapal saat melakukan pelayaran menjadi insiden yang tidak dapat diprediksi. Namun, kapal yang tenggelam bukan berarti seluruh penumpangnya otomatis tidak dapat diselamatkan. Jika berhasil keluar dari kapal dan tetap berada di permukaan laut, peluang untuk bertahan hidup masih ada.
Hal ini ditunjukkan melalui kisah seorang remaja berusia 18 tahun bernama Aldi Novel yang berhasil bertahan hidup setelah terapung di laut selama 49 hari. Kejadian ini terjadi pada pertengahan Juli 2018, ketika Aldi terbawa arus saat sedang memancing di Manado. Dia kemudian ditemukan di kapal berbendera Panama, MV Arpeggio, pada 31 Agustus 2018.
Dengan menangkap ikan serta memasaknya menggunakan kayu yang dibakar dari pagar kapal, Aldi berhasil bertahan hidup meski berada di laut lepas.
Lalu, dengan adanya kisah tersebut, sebenarnya berapa lama seseorang dapat bertahan hidup di laut setelah mengalami gangguan pada kapalnya? Ada sejumlah faktor yang dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk bertahan hidup.
Kondisi lingkungan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan kemampuan seseorang bertahan di rakit penolong. Suhu air yang rendah dapat mempercepat kehilangan panas tubuh dan meningkatkan risiko hipotermia. Sementara itu, cuaca panas dan paparan sinar matahari dapat menyebabkan dehidrasi.
Air menjadi sumber daya yang paling penting. Seseorang hanya dapat bertahan hidup sekitar 3–5 hari tanpa air dalam kondisi normal, tetapi dalam lingkungan yang panas dan lembap di atas sekoci, waktu bertahan dapat berkurang secara signifikan.
Makanan menjadi faktor penting lainnya. Meskipun tubuh manusia dapat bertahan selama berminggu-minggu tanpa makanan, jatah makanan berenergi tinggi dapat membantu menjaga kekuatan dan kondisi tubuh.
Terakhir, persediaan medis juga menjadi penting. Jika terjadi cedera, meski ringan, kondisi tersebut dapat semakin memburuk jika tidak segera ditangani. Karena itu, kotak P3K yang berisi perban, antiseptik, dan obat pereda nyeri diperlukan untuk menangani luka serta mengurangi risiko infeksi.
Orang dengan kondisi tubuh yang sehat umumnya lebih mampu menghadapi tekanan lingkungan dalam waktu lama. Di sisi lain, kepanikan dan stres dapat membuat seseorang mengambil keputusan yang berisiko atau menggunakan persediaan secara tidak terkendali.
Karena itu, seseorang perlu tetap tenang, menghemat persediaan, dan bekerja sama dengan orang lain jika berada dalam situasi bertahan hidup di laut.
Nah, sebenarnya tidak ada batas waktu yang pasti mengenai berapa lama seseorang dapat bertahan hidup setelah kapal tenggelam. Kondisi lingkungan, ketersediaan persediaan, serta kondisi fisik dan mental menjadi beberapa faktor yang dapat memengaruhi peluang seseorang untuk bertahan lebih lama hingga mendapatkan pertolongan.
Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com.
(Eunike Michelle Gultom)