Kemendikdasmen dan HIMPSI Perkuat Kesiapan Sekolah Hadapi Bencana

Nattasya Amani Vrazeti • 31 August 2026 18:59

Jakarta: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) resmi meluncurkan Tim Relawan Sekolah Tangguh di SDN Kebon Kosong 09, Kemayoran, Jakarta Pusat. Pembentukan tim relawan ini difokuskan untuk membantu satuan pendidikan membangun sistem mitigasi bencana yang andal dan terstruktur.

“Hari ini juga sekaligus untuk launching tim relawan sekolah tangguh yang kami bentuk untuk bisa membantu sekolah memiliki sistem mitigasi bencana,” ujar Ketua Divisi Program Kebencanaan Pengurus Pusat Korps Relawan Bencana HIMPSI, Yuria Ekalitani, di lokasi, Senin, 31 Agustus 2026.
 
“Karena lokasi SDN Kebon Kosong 09 ini ada di lokasi yang rawan bencana kebakaran, karena sudah tercatat dalam satu tahun itu terjadi tiga kali kebakaran, maka kami juga memutuskan tidak hanya memberikan layanan dukungan psikososial, namun juga membangun sistem sekolah dengan sistem mitigasi bencana yang berbasis sekolah,” ucap Yuria.

Peluncuran Tim Relawan Sekolah Tangguh ini sekaligus menjadi penanda berakhirnya rangkaian pendampingan psikososial yang telah berjalan sejak awal bulan.

“Acara hari ini adalah merupakan penutupan dari seluruh rangkaian layanan dukungan psikososial yang sudah kami laksanakan sejak dari tanggal 9 Agustus hingga tanggal 30 Agustus kemarin,” ucap Yuria.

Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) Kemendikdasmen, Saryadi, menyambut baik peluncuran program Sekolah Tangguh Tanggap Bencana ini. Program ini untuk membangun kesiapsiagaan seluruh warga sekolah saat menghadapi situasi darurat.

“Bencana tidak kita inginkan, namun dengan membangun ketangguhan dan kesiapsiagaan, harapannya jika terjadi bencana, adik-adik kita sudah memiliki kesiapan mengenai apa yang harus dilakukan dan ke mana harus bergerak untuk mencari titik aman,” kata Saryadi.

Saryadi menambahkan, sinergi bersama HIMPSI telah merancang pemulihan trauma secara komprehensif. Mulai dari tahap identifikasi hingga penutupan program, seraya memastikan kesiapan sekolah dalam menghadapi potensi bencana di masa depan.

“Kami bersama rekan-rekan dari HIMPSI merancang program dalam rangka untuk memulihkan gangguan psikologi di anak-anak tadi di mana prosesnya diawali melalui identifikasi awal yang dilakukan oleh teman-teman dari HIMPSI kemudian merancang program dan hari ini adalah akhir dari pelaksanaan program tersebut,” ucap Saryadi.

(Zein Zahiratul Fauziyyah)


Close Ads X
Close Ads X