22 March 2026 22:36
Suasana hangat perayaan Idulfitri dirasakan oleh ratusan diaspora Indonesia di Swedia. Bertempat di kawasan Husby, sebelah utara Kota Stockholm, warga Indonesia berkumpul untuk merayakan hari kemenangan dengan penuh kebersamaan meski dalam kondisi sederhana di tengah tekanan inflasi Eropa yang meningkat.
Kegiatan yang berlangsung khidmat ini diselenggarakan oleh komunitas pengajian Al Ikhlas bekerja sama dengan KBRI Stockholm. Lebih dari 200 diaspora, mulai dari keluarga muda, pelajar, hingga pekerja, hadir memadati ruang serba guna untuk melaksanakan salat Id berjamaah dan takbiran.
Ketua Komunitas Al Ikhlas Stockholm, Edo Widiyadi, mengungkapkan bahwa penyelenggaraan tahun ini memiliki tantangan tersendiri, terutama terkait melonjaknya harga kebutuhan pokok. "Biaya konsumsi meningkat seiring dengan inflasi di Swedia yang mencapai 10 hingga 15 persen. Meskipun anggaran membengkak, alhamdulillah kami tetap bisa menyediakan sekitar 320 paket hidangan tradisional untuk para jemaah sebagai pengobat rindu kampung halaman," ujar Edo.
Duta Besar RI untuk Swedia, Yayan Ganda Hayat Mulyana, mengaku terkesan dengan soliditas masyarakat Indonesia. "Kami merasakan kehangatan keluarga dan persaudaraan yang sangat kuat. Merayakan Idulfitri dalam kesederhanaan dan ketakwaan di sini memberikan kesan mendalam," tuturnya.
Perjuangan Menempuh Jarak Ratusan Kilometer
Bagi diaspora di luar negeri, Idulfitri adalah momen mencari "keluarga baru". Banyak warga yang menetap di kota-kota kecil rela menempuh jarak ratusan kilometer demi mencapai Stockholm. Salah satunya adalah Alivia, yang menempuh perjalanan 3,5 jam menggunakan kereta dari Arblom sejak pukul 05.00 subuh.
"Di kota kecil tidak ada komunitas Indonesia, jadi datang ke Stockholm rasanya seperti mudik. Meskipun harus menggunakan tabungan karena biaya transportasi yang tidak murah bagi pelajar, kebersamaan ini sangat berharga," ungkap Yassirullah, diaspora lainnya di Stockholm.
Selain faktor ekonomi, tantangan administratif dan logistik juga menjadi alasan banyak diaspora tidak bisa mudik ke Indonesia tahun ini. Risma, seorang diaspora di Swedia, menyebutkan bahwa jadwal libur sekolah anak dan ketidakpastian rute penerbangan menjadi pertimbangan utama.
"Kita tidak bisa mengizinkan anak bolos sekolah lebih dari dua minggu. Selain itu, banyak berita mengenai pembatalan penerbangan akibat kendala teknis dan blokade di beberapa jalur udara, sehingga menetap di Swedia menjadi pilihan paling realistis tahun ini," jelas Risma.
Meski jauh dari tanah air, keterbatasan yang ada tidak mengurangi makna Lebaran bagi masyarakat Indonesia di Swedia untuk tetap menjaga tradisi dan mempererat tali persaudaraan.