28 January 2026 22:47
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, menyoroti dampak serius perubahan tata guna lahan terhadap risiko bencana hidrometeorologi di Indonesia. Ia menyebut, intensitas curah hujan yang dulunya dianggap aman, kini justru berpotensi memicu bencana akibat daya dukung lingkungan yang menurun.
Untuk memitigasi risiko tersebut, BMKG menggencarkan strategi teknologi mitigasi. Tercatat, BMKG telah melaksanakan 83 operasi modifikasi cuaca (OMC) yang tersebar hampir di seluruh provinsi di Indonesia.
Faisal menjelaskan, masifnya pembangunan fisik memberikan tekanan besar pada lingkungan. Hal ini menyebabkan tanah tidak lagi mampu menyerap air seefektif satu dekade lalu.
"Lima atau sepuluh tahun lalu, dengan curah hujan seperti sekarang, kondisi lahan mungkin masih aman. Namun sekarang, dengan perubahan tata guna lahan dan intensitas pembangunan yang tinggi, tekanan pada lingkungan meningkat. Akibatnya, curah hujan yang sama kini berpotensi menyebabkan bencana seperti banjir atau tanah longsor," jelas Faisal.
| Baca juga: Perkuat Mitigasi di Sumatra, BMKG Operasikan Empat Radar Cuaca Strategis |