29 June 2026 23:35
Di tengah ancaman kemarau panjang akibat fenomena El Nino dan fluktuasi harga Bahan Bakar Minyak (BBM), para petani di Desa Krandegan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, berhasil menciptakan ketahanan pangan yang tangguh. Solusinya berpusat pada pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk sistem irigasi persawahan.
Hamparan sawah seluas 70 hektare di desa tersebut sebelumnya berstatus sawah tadah hujan. Praktis, petani hanya bisa menanam padi satu hingga dua kali dalam setahun. Namun, kondisi itu berubah drastis sejak masuknya bantuan sistem pompa air bertenaga surya.
Berawal dari bantuan satu unit pompa dari pemerintah provinsi pada 2022, program ini terus dikembangkan menggunakan dana desa dan Corporate Social Responsibility (CSR). Kini, Desa Krandegan telah memiliki tujuh unit pompa bertenaga surya dengan total nilai investasi mencapai Rp850 juta.
Infrastruktur ini didukung oleh panel surya berkapasitas total 42.000 watt. Sistem ini bekerja memompa air dari Sungai Dulang sebagai sumber irigasi utama. Saat cuaca terik optimal, debit air yang disedot mampu mencapai 500 meter kubik per jam.
Tekan Ongkos Produksi, Petani Tinggal Terima Beres
Kepala Desa Krandegan, Dwinanto, membeberkan efisiensi luar biasa sejak desanya beralih ke energi surya. Sebelumnya, biaya operasional memompa air tanah sangat mencekik para petani.
"Dulu sehari semalam kita bisa habis Rp500 ribu untuk menghidupkan dua unit pompa 25 PK. Sekarang alhamdulillah, kita tidak beli solar sedikit pun," ungkap Dwinanto.
Sebagai gantinya, desa menerapkan sistem iuran gotong royong yang sangat terjangkau, yakni Rp2.000 per ubin. Dana ini digunakan untuk menggaji tiga petugas yang bersiaga merawat pompa dan mengalirkan air ke sawah-sawah.
"Petani tidak perlu repot-repot mengalirkan air, sudah ada petugasnya. Ke depan, 20 hektar lahan yang belum ter-cover juga akan kita pasangi pompa tenaga surya," tambahnya.
Manfaat ini dirasakan langsung oleh Supriono, salah seorang petani setempat. Ia mengaku tak perlu lagi memanggul pompa sendiri dan khawatir kehabisan sumber air tanah.
"Sebelum ada PLTS, pas musim tanam kedua kita harus panggul pompa sendiri (menyedot) dari air tanah, itu pun besoknya sudah tidak ada air. Sekarang, air sudah sampai ke sawah masing-masing karena ada pengurusnya, dan air dari sungai ini bisa bertahan lama," jelas Supriono.
Produksi Padi Meningkat
Dampak paling nyata dari inovasi irigasi ini adalah perubahan pola tanam. Jika sebelumnya hanya panen setahun sekali, kini petani Krandegan mampu menanam dan memanen padi hingga tiga kali dalam setahun. Lompatan ini sukses memberikan tambahan produksi padi hingga 420 ton per tahun di desa tersebut.
Melihat kesuksesan Desa Krandegan, Wakil Bupati Purworejo, Dion Agasi, berencana mereplikasi program serupa secara luas. Fokus utamanya adalah wilayah-wilayah pethit atau desa dengan posisi pengairan yang sulit dijangkau oleh sistem irigasi konvensional.
"Kami akan mereplikasi program ini bekerja sama dengan pihak perguruan tinggi dan PT Agros, agar inovasi ini bisa ditularkan ke desa-desa lain di Kabupaten Purworejo," tegas Dion.