Memasuki usia ke-80 tahun pada 1 Juli 2026, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) terus melakukan refleksi dan transformasi besar-besaran untuk menjadi institusi yang lebih profesional, modern, dan dekat dengan masyarakat.
Dalam program Special Interview jelang Hari Bhayangkara ke-80, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan berbagai capaian, tantangan, hingga inovasi yang tengah dijalankan institusinya di usianya yang menginjak delapan dekade.
"Perjalanan Polri penuh dengan dinamika pasang surut. Sebagai abdi negara, kami memang digembleng untuk menghadapi berbagai risiko tugas. Kami terus melakukan introspeksi agar apa yang diharapkan masyarakat terhadap institusi ini bisa terwujud," ujar Jenderal Listyo Sigit dikutip dari tayangan Metro TV, Selasa 30 Juni 2026.
UU Baru dan Optimalisasi Layanan 110
Jenderal Listyo Sigit menyoroti pengesahan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2026 tentang revisi UU Polri sebagai landasan baru yang membuat institusinya lebih adaptif terhadap kejahatan siber, pemanfaatan teknologi, dan pemenuhan hak asasi manusia.
Sejalan dengan kemajuan tersebut, Polri juga telah menyempurnakan layanan darurat 110. Hotline ini kini terintegrasi dengan data Dukcapil guna mencegah laporan palsu dan dilengkapi sistem yang akan meneruskan panggilan tak terjawab secara otomatis secara berjenjang dari Polsek hingga ke tingkat Mabes Polri.
"Apabila 10 detik telepon tidak diangkat (di tingkat Polsek), maka panggilannya akan bergeser otomatis ke Polres, Polda, hingga ke Mabes," kata Kapolri.
Berantas Kejahatan Transnasional
Dalam ranah penegakan hukum, Polri semakin memperkuat sinergi lintas lembaga dan kerja sama
police-to-police dengan negara sahabat. Langkah ini difokuskan untuk memberantas kejahatan transnasional yang meresahkan, seperti sindikat judi online dan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
Di sisi lain, Polri juga mengubah paradigma penanganan konflik sosial di lapangan. Kapolri menegaskan bahwa pengamanan unjuk rasa kini mengedepankan pendekatan yang lebih humanis. Petugas di lapangan ditekankan untuk membuka ruang dialog dan bertindak sebagai fasilitator antara massa dengan pemangku kebijakan, sehingga aspirasi dapat tersampaikan tanpa harus berujung pada benturan fisik.
Kawal Ketahanan Pangan dan Standarisasi SPPG
Lebih lanjut, Jenderal Listyo Sigit menegaskan komitmen Polri dalam mendukung program strategis Asta Cita pemerintah. Untuk memperkuat swasembada pangan, Polri tengah mengelola program penanaman jagung secara bertahap di lahan seluas satu juta hektare. Selain itu, Polri juga terjun langsung mengawal operasional Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG).
"Setiap SPPG Polri memiliki sertifikat laik higiene, sanitasi, sertifikat halal, dan uji lab. Kami juga menggunakan chef terlatih dan memanfaatkan gas CNG (bukan LPG non-subsidi) agar tata kelolanya baik dan mendorong ekonomi daerah," paparnya.
Sebagai bentuk investasi jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045, Polri melalui Yayasan Kemala Bhayangkari tengah membangun SMA Kemala Taruna Bhayangkara di Gunung Sindur. Sekolah yang telah mengantongi sertifikat International Baccalaureate (IB) ini dirancang khusus dengan seleksi ketat untuk mencetak lulusan yang siap menembus universitas terbaik di dunia.
Menutup wawancara, Jenderal Listyo Sigit menitipkan pesan khusus kepada masyarakat. Ia berharap publik terus mengawal dan menjalin kemitraan yang erat dengan kepolisian, sehingga Polri dapat senantiasa hadir dan benar-benar menjadi institusi milik rakyat.
"Kami ingin Polri hadir saat dibutuhkan dan tidak ada jarak. Tolong bersama-sama kita jaga institusi ini, sehingga institusi Polri betul-betul menjadi milik masyarakat," ucapnya.