15 August 2026 12:32
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi memastikan pemerintah pusat telah melakukan koordinasi lintas sektoral untuk menangani dampak gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu, 15 Agustus 2026.
Prasetyo menyatakan telah berkomunikasi intensif dengan Menko PMK, Kepala Basarnas, Kepala BMKG, serta Gubernur NTT sejak awal kejadian. Fokus utama saat ini adalah mitigasi penyelamatan jiwa dan tanggap darurat yang cepat.
“Pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dan seluruh jajaran terkait termasuk TNI dan Polri melakukan langkah-langkah mitigasi, melakukan langkah-langkah cepat, tanggap darurat cepat untuk terutama segera mengatasi keadaan di awal-awal kejadian" ujar Prasetyo Hadi dalam tayangan Metro Siang Metro TV, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Terkait laporan kerusakan infrastruktur, Mensesneg menyoroti adanya reruntuhan bangunan di sejumlah kantor dan pelabuhan di Maumere. Ia secara khusus menginstruksikan petugas di lapangan untuk segera melakukan penyisiran di lokasi-lokasi terdampak.
"Ada laporan bangunan runtuh di Maumere, dan kemudian ada beberapa kantor-kantor juga yang runtuh. Kami minta untuk segera dicek apakah ada korban di reruntuhan-reruntuhan tersebut gitu," tegasnya.
Sebagai bentuk kesiapsiagaan, pemerintah pusat juga telah menyiagakan tim perbantuan di Halim Perdanakusuma, Jakarta, yang siap dikerahkan sewaktu-waktu jika diperlukan bantuan tambahan ke lokasi bencana.
Prasetyo menambahkan bahwa pembicaraan mengenai perbaikan infrastruktur permanen belum menjadi prioritas utama saat ini. Pemerintah kini lebih memfokuskan perhatian pada keselamatan warga, khususnya mereka yang kehilangan tempat tinggal.
"Yang paling penting adalah segera mitigasi penyelamatan. Kalau ada korban segera tertangani dan langsung dipikirkan untuk penanganan-penanganan apabila misalnya warga masyarakat terdampak rumahnya mungkin tidak dapat lagi ditempati, kami juga tadi sudah diskusikan gitu,” pungkasnya.
Pada 15 Agustus 2026, gempa bumi berkekuatan awal bermagnitudo 7,0 dengan parameter pemutakhiran menjadi bermagnitudo 7,7 terjadi pada pukul 05.58 Wita . Episenter gempa berada pada koordinat 8,41 derajat Lintang Selatan dan 121,39 derajat Bujur Timur. Pusat gempa bumi tektonik itu terjadi di wilayah laut, sekitar 30 kilometer arah timur laut Nagekeo, NTT.
Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, BMKG sempat menerbitkan peringatan dini tsunami sesaat usai terjadi gempa tektonik tersebut. Peringatan dini tsunami berakhir pada pukul 08.30 Wita setelah hasil observasi menunjukkan tidak ada lagi kenaikan muka air laut secara signifikan.
Hasil observasi tinggi muka laut mencatat kenaikan muka air laut di sejumlah wilayah. Ketinggian tertinggi yang tercatat dalam laporan BMKG mencapai 0,94 meter di Maurole, Ende, pada pukul 06.27 Wita. Kenaikan muka air laut juga tercatat di Pelabuhan Kewapante-Sikka 0,38 meter, Flores Timur 0,25 meter, Labuan Bajo 0,36 meter, Dompu 0,17 meter, Bakalang-Alor 0,14 meter, serta sejumlah wilayah lainnya.