Rumah Hancur Akibat Gempa 7,7 M, Warga Manggarai NTT Menanti Bantuan Renovasi

27 August 2026 10:08

Sebanyak 30 warga Kampung Mando, Kelurahan Compang Carep, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga kini masih bertahan di posko pengungsian mandiri. Pascagempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah tersebut pada 15 Agustus lalu, kondisi pemukiman warga dilaporkan hancur lebur dan tidak lagi layak huni.

Pantauan di lokasi menunjukkan kerusakan parah pada sejumlah bangunan yang rata dengan tanah. Reno, salah satu penyintas, menceritakan detik-detik mencekam saat rumahnya roboh. Ia dan ayahnya nyaris tertimbun reruntuhan jika terlambat keluar rumah dalam hitungan detik.

"Waktu gempa dahsyat itu, saya bangunkan bapak. Begitu kami berhasil melangkah keluar pintu, rumah langsung roboh seketika," ujar Reno dalam tayangan Breaking News Metro TV, Kamis, 27 Agustus 2026.

Kesedihan mendalam juga dirasakan oleh Margaretha. Ia mengaku sempat shock hingga pingsan melihat rumahnya hancur. Sebagai keluarga dengan penghasilan tidak tetap, Margaretha merasa sangat terbebani. Suaminya bekerja sebagai buruh dan sopir travel yang penghasilannya hanya cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari.
 


“Kami bukan gaji bulan, kami hanya gaji ini pendapatan dari penumpang kalau sisa dari bos baru kami bisa makan minum,” ungkap Margaretha.

Terkait pemenuhan kebutuhan dasar, warga mengaku telah menerima bantuan logistik berupa beras, mi instan, telur, dan minyak goreng dari pemerintah maupun pihak swasta. Sementara untuk kebutuhan air bersih, warga terpaksa menyambung pipa dari rumah tetangga.

Meski bantuan pangan telah mengalir, harapan terbesar para pengungsi saat ini adalah adanya program bantuan renovasi rumah dari pemerintah. Tercatat ada delapan Kepala Keluarga (KK) di wilayah tersebut yang kehilangan tempat tinggal dan sangat bergantung pada bantuan perbaikan agar dapat kembali hidup normal.

“Saya terutama minta pertolongan makan minum begitu, terus yang kedua untuk mau renovasi saya punya rumah karena saya ini membutuhkan renovasi saya punya rumah" harap Margaretha.

Hingga saat ini, para warga masih terus bertahan di tenda pengungsian sembari menanti kepastian mengenai bantuan rekonstruksi bangunan yang dijanjikan pemerintah.

(Firny Firlandini Budi)


Close Ads X
Close Ads X