18 January 2026 18:12
Penemuan puing pesawat ATR 42-500 di kawasan Puncak Bulu Saraung, perbatasan Pangkep-Maros, Sulawesi Selatan, menyisakan tanda tanya besar mengenai penyebab kecelakaan. Berdasarkan data awal dan lokasi jatuhnya pesawat, Pengamat Penerbangan, Gerry Soejatman, menilai kecelakaan ini masuk dalam kategori Controlled Flight Into Terrain (CFIT).
"Ini masuk kategori CFIT. Artinya, pesawat dalam kondisi terkendali lalu menabrak gunung," ujar Gerry di Metro Hari Ini, Metro TV, Minggu 18 Januari 2026.
Misteri Keluar Jalur
Gerry menyoroti adanya indikasi pesawat keluar dari prosedur pendaratan yang seharusnya. Menurutnya, prosedur pendaratan ke Bandara Sultan Hasanuddin Makassar sudah didesain sedemikian rupa untuk menghindari kontur pegunungan di sekitarnya.
"Yang jadi pertanyaan sekarang, kenapa dia bisa ada di situ (lokasi jatuh)? Padahal prosedur sudah didesain aman tanpa risiko menabrak gunung tersebut," jelasnya.
Ia menambahkan, pernyataan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara sebelumnya juga mengindikasikan adanya penyimpangan jalur. Gerry menegaskan bahwa faktor cuaca buruk kemungkinan bukan penyebab tunggal, melainkan faktor pendukung.
"Kalau kondisi pesawat tidak ada laporan kendala, kita bisa persempit kemungkinannya. Apakah karena kesiapan kru, instruksi ATC yang membingungkan, atau faktor lain? Ini yang harus diinvestigasi," tegas Gerry.
Harapan pada Kotak Hitam
Terkait proses investigasi, Gerry optimistis penyebab pasti kecelakaan dapat terungkap melalui kotak hitam (black box). Berdasarkan rekaman video penemuan puing, bagian ekor pesawat terlihat relatif utuh dibandingkan bagian depan yang hancur menabrak tebing.
"Biasanya Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR) disimpan di bagian ekor. Jadi seharusnya itu bisa diambil untuk diunduh datanya," ungkapnya.
Sorotan pada Maskapai
Dalam kesempatan tersebut, Gerry juga menyinggung rekam jejak maskapai operator pesawat. Menurutnya, maskapai ini memiliki sejarah panjang melayani penerbangan carter untuk industri pertambangan serta minyak dan gas (migas) yang dikenal memiliki standar audit keselamatan sangat ketat.
"Ini tentu menjadi sorotan. Maskapai dengan audit ketat seperti ini kok bisa mengalami kecelakaan? Apakah ada perubahan dalam perusahaan yang mengakibatkan safety menurun atau ada faktor eksternal? Itu tugas investigator," pungkasnya.
(Farouq Faza Bagjawan Alnanto)