11 October 2026 00:39
Kotim: Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, terus meluas meski upaya pemadaman terus dilakukan. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, luas lahan yang terbakar mencapai 2.135 hektare dari 1.366 kejadian kebakaran.
Pada Sabtu, sembilan titik kebakaran dilaporkan terjadi di sejumlah kecamatan. Salah satu lokasi yang terbakar berada di Jalan Samekto Barat, dekat kawasan permukiman. Lahan di lokasi tersebut kembali terbakar setelah sebelumnya berhasil dipadamkan oleh tim Satuan Tugas (Satgas) Karhutla.
“Memang kejadian ini berulang. Kemarin sudah terjadi kebakaran dan hari ini terjadi perluasan lagi di lokasi yang sama,” kata Jurnalis Metro TV Akhmad Dian Noor dalam tayangan Primetime News Metro TV, Sabtu 10 Oktober 2026.
Kebakaran terbesar dilaporkan terjadi di wilayah selatan Kotawaringin Timur, meliputi Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, Pulau Hanaut, dan Ujung Pandaran.
Petugas menghadapi sejumlah kendala dalam proses pemadaman, mulai dari lokasi kebakaran yang jauh di dalam hutan, akses jalan yang sulit dijangkau, hingga keterbatasan sumber air. Kondisi lahan gambut juga membuat api berpotensi kembali muncul meski permukaan lahan telah berhasil dipadamkan.
“Di wilayah ini adalah wilayah lahan gambut dan hari ini dipadamkan, tertinggal bara api di bawahnya, kemudian akan muncul kembali karena bara api yang ada di bawah lahan gambut ini masih terperangkap,” ujar Akhmad.
Ia menjelaskan, angin kencang dan cuaca panas dapat memicu munculnya kembali api dari bara yang masih terperangkap di bawah permukaan gambut.
Dampak karhutla juga dirasakan masyarakat akibat kabut asap yang menyelimuti Kota Sampit dan wilayah sekitarnya. Berdasarkan data Dinas Kesehatan setempat yang disampaikan reporter, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) tercatat sebanyak 2.743 kasus pada Agustus dan meningkat menjadi lebih dari 2.900 kasus pada September.
“Banyak warga yang terpapar dari asap dan merasakan dampaknya, terutama mengenai paparan asap di mata perih, tenggorokan gatal, batuk-batuk,” kata Akhmad.
Selain kesehatan, aktivitas pendidikan turut terdampak. Kegiatan belajar sementara masih dilaksanakan dari rumah melalui pembelajaran jarak jauh.
Pemerintah daerah bersama tim gabungan Satgas Karhutla terus melakukan pemadaman dengan membentuk sejumlah regu dan menyiapkan posko. Namun, keterbatasan air dan sulitnya akses menuju titik kebakaran masih menjadi hambatan.
Tim berharap hujan segera turun di wilayah Kotawaringin Timur agar kebakaran dapat lebih cepat dikendalikan dan masyarakat kembali menikmati udara bersih.