Kemenhut Catat Hotspot Karhutla di Kalteng Tertinggi

Ilustrasi karhutla. Foto: MGN Network.

Kemenhut Catat Hotspot Karhutla di Kalteng Tertinggi

Despian Nurhidayat • 10 October 2026 22:14

Jakarta: Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat jumlah titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tertinggi berada di Kalimantan Tengah (Kalteng). Wilayah tersebut merekam 122 titik panas berdasarkan data hingga Jumat, 9 Oktober 2026.

"Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian setelah mencatat jumlah hotspot tertinggi di antara enam provinsi prioritas pada pemantauan terbaru. Karena itu, pemantauan intensif dan verifikasi langsung di lapangan terus diperkuat," kata Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut Ristianto Pribadi di Jakarta, Sabtu, 10 Oktober 2026.

Berdasarkan data SiPongi Kemenhut, terdeteksi 437 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional. Dari total tersebut, sebanyak 270 titik panas terakumulasi di enam provinsi prioritas pengendalian karhutla.

Di enam provinsi prioritas, Kalimantan Tengah mencatat 122 hotspot, meningkat dari 86 titik. Sementara itu, Sumatra Selatan mencatat 107 titik panas, turun dari 130 titik.

Ristianto menjelaskan, temuan hotspot tidak dapat langsung diartikan sebagai jumlah kejadian kebakaran maupun luas lahan yang terbakar. Setiap indikasi titik panas perlu diperiksa langsung di lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya.

"Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit dan tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas areal yang terbakar. Karena itu, seluruh indikasi tetap harus diverifikasi melalui groundcheck," ujar Ristianto.


Kondisi lahan usai terjadi karhutla. Foto: dok. BNPB

Penanganan di darat berfokus pada patroli, pemadaman langsung, hingga pembasahan kawasan gambut agar api tidak menjalar di bawah permukaan. Kemenhut bersama Manggala Agni, TNI, Polri, dan BPBD juga menyiagakan 61 unit armada udara untuk pemadaman serta modifikasi cuaca.

Dampak karhutla turut menurunkan kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan hingga kategori tidak sehat dan berbahaya. Masyarakat diimbau membatasi aktivitas luar ruangan dan tidak membakar lahan demi mencegah pembentukan titik api baru.

(Gabriella Thesa Widiari)