9 July 2023 18:30
Salah satu eks wali santri Al-Zaytun, Leny Siregar secara terang-terangan mengaku sebagai mantan orang dalam atau dengan kata lain sebagai mantan anggota Negara Islam Indonesia (NII) KW 9 selama 21 tahun.
Leny awalnya bergabung dengan NII pada Januari 2000. Ia diajak oleh temannya sesama alumni Paskibra Kotamadya Bandung untuk ikut kajian al-qur'an di salah satu masjid. Kemudian Leny dikenalkan secara bertahap ke perkumpulan NII yang pada saat itu bernama NKA.
"Melalui pemahaman-pemahaman bertahap bahwa keadaan sekarang ini dipahamkan keadaan jahiliah dan sudah terjadi ciri-ciri sebagaimana zaman jahiliah dahulu, sehingga perlu untuk berhijrah ke tempat yang diridai Allah (yakni) Negara Karunia Allah (NKA). Itu istilahnya dahulu NKA bukan NII." ungkap eks wali santri Al-Zaytun, Leny Siregar dalam program Primetime News Minggu (9/7/2023).
Tak main-main, orang yang merekrut untuk bergabung dalam perkumpulan ini berasal dari orang-orang terpelajar mulai dari kalangan intelektual yang berasal dari Politeknik Bandung, ITB hingga Unpad. Hal ini lah yang membuat Leny percaya dan bertahan untuk mengikuti perkumpulan ini.
Leny bahkan didoktrin bahwa Al-Zaytun merupakan surga yang ada di dunia.
Selain mengikuti kajian, Leny juga mengaku diwajibkan membayar infak. Infak yang diminta pun bertahap tiap bulannya mulai dari Rp80 ribu-350 ribu. Selain itu para wali santri juga diminta berkontribusi membiayai dana pembangunan dan operasional Al-Zaytun dengan nilai fantastis hingga Rp300 juta per orang.
Dana yang tak sedikit itu diakui memberatkan para wali santri. Para wali santri akhirnya mendirikan yayasan sosial mengumpulkan uang dari masyarakat untuk memenuhi target yang diberikan Al-Zaytun.
Jika target yang diberikan tidak tercapai, tak segan-segan anggota NII tersebut dipanggil saat pertemuan yang rutin digelar Al-Zaytun. Inilah yang menyebabkan setiap anggota NII tersebut malu, sehingga mau tidak mau untuk memenuhi target infak yang diberikan.