Jakarta: Burung oxpecker dikenal sebagai spesies kecil dengan kebiasaan unik hidup berdampingan dengan mamalia besar seperti zebra, kerbau, badak, hingga rusa.
Selama ini, burung tersebut sering dianggap sebagai "petugas kebersihan alami" karena memakan kutu dan parasit yang menempel pada tubuh hewan inangnya. Namun, benarkah hubungan keduanya selalu saling menguntungkan?
Terdapat dua spesies utama oxpecker, yaitu Buphagus africanus dan Buphagus erythrorhynchus, yang banyak ditemukan di kawasan Afrika Sub-Sahara. Secara umum, hubungan antara oxpecker dan mamalia besar dikategorikan sebagai simbiosis mutualisme, di mana burung memperoleh sumber makanan, sementara hewan inang terbantu karena tubuhnya dibersihkan dari parasit.
Melansir
Inverdoorn,
oxpecker memakan ektoparasit seperti kutu, lalat, dan caplak dengan cara menyibak bulu atau rambut mamalia menggunakan paruhnya yang kuat dan pipih. Selain itu, burung ini juga mengonsumsi kulit mati dan kotoran telinga yang menempel pada tubuh inangnya.
Hubungan Mutualisme yang Tidak Sesederhana Itu
Masih mengutip
Inverdoorn, hubungan antara
oxpecker dan mamalia memang sering diklasifikasikan sebagai mutualisme. Namun, sejumlah ilmuwan kini menyebut hubungan tersebut sebagai mutualisme fakultatif, yaitu hubungan yang umumnya menguntungkan kedua pihak, tetapi dalam kondisi tertentu dapat berubah menjadi merugikan.
Beberapa manfaat yang diberikan oxpecker antara lain membantu mengurangi keberadaan kutu dan parasit pada tubuh hewan. Namun di sisi lain, burung ini juga diketahui dapat mengisap darah dan memperparah luka yang sudah ada.
Melansir
Tsavo Trust, manfaat kesehatan yang diperoleh hewan inang ternyata tidak selalu signifikan. Sebab, sebagian besar kutu yang dimakan oxpecker merupakan kutu yang sudah kenyang mengisap darah. Sejumlah penelitian juga belum menemukan bukti kuat bahwa kehadiran burung ini secara efektif mampu menurunkan populasi parasit pada mamalia besar.
Sisi Lain Perilaku Oxpecker di Alam Liar
Pengamatan di alam liar menunjukkan bahwa perilaku
oxpecker tidak selalu menguntungkan bagi hewan inangnya. Beberapa perilaku yang tercatat antara lain:
- Mematuk dan memperlebar luka terbuka untuk mendapatkan darah.
- Merobek kulit sehat sehingga menimbulkan luka baru.
- Mengonsumsi ketombe, serpihan kulit mati, dan kotoran telinga hewan inang.
Meski perilaku tersebut membantu memenuhi kebutuhan makan
burung oxpecker, tindakan tersebut dapat memicu iritasi, memperlambat penyembuhan luka, hingga menyebabkan ketidaknyamanan bagi mamalia yang dihinggapinya.
Nah, dari berbagai temuan tersebut, hubungan antara oxpecker dan mamalia besar ternyata tidak sepenuhnya hitam-putih. Burung ini memang dapat membantu membersihkan parasit, tetapi dalam kondisi tertentu juga berpotensi merugikan hewan inangnya. Karena itu, para peneliti kini melihat hubungan keduanya sebagai interaksi yang lebih kompleks daripada sekadar simbiosis mutualisme biasa.
Jangan lupa saksikan
MTVN Lens lainnya hanya di
Metrotvnews.com.
(Jessica Nur Faddilah)