21 April 2026 17:43
Bencana alam seringkali menyisakan duka mendalam, namun bagi para perempuan penyintas bencana Aceh, berakhirnya masa tanggap darurat hanyalah awal dari perjuangan baru. Di balik dinding-dinding sederhana hunian sementara (huntara), para perempuan ini dituntut menjadi sosok serba bisa yang menjaga napas kehidupan keluarga di tengah segala keterbatasan.
Proses perpindahan ke hunian sementara menjadi langkah krusial dalam pemulihan, namun aspek kenyamanan dan privasi masih menjadi persoalan utama. Rausah, seorang perempuan penyintas bencana, menceritakan bagaimana ia harus mengusahakan dapur seadanya agar tetap bisa memasak untuk keluarganya, meskipun fasilitas yang tersedia sangat minim.
Kondisi jauh lebih menantang dirasakan oleh kelompok rentan. Nila Kandi, seorang lansia dengan kondisi kaki patah yang belum pulih, harus berjuang setiap kali ingin mengakses fasilitas sanitasi. Jarak dan desain toilet yang tidak ramah bagi penyandang disabilitas fisik membuatnya merasa tidak nyaman.
"Kalau kencing bisalah, tapi kalau untuk BAB enggak bisa, enggak nyaman. Karena saya kalau di kamar mandi, kloset kayak gitu (jongkok) saya enggak bisa," ungkap Nila.
| Baca juga: Satgas PRR Aceh Tinjau Kondisi Pengungsi di Bener Meriah |