Secercah Harapan di Tengah Duka Gempa NTT

28 August 2026 00:21

Manggarai Timur: Lebih dari sepekan setelah gempa bumi mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus lalu, warga Desa Ranaka, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai Timur, masih bertahan di tenda pengungsian.

Keceriaan anak-anak di tengah pengungsian seakan menutupi kesedihan akibat rumah yang retak dan rusak. Meski harus hidup di ruang terbatas di balik terpal, warga tetap berusaha menjalani hari dengan penuh rasa syukur.

Dukungan dan bantuan yang terus berdatangan menjadi penguat bagi para penyintas. Salah seorang warga, Frenky, mengaku bersyukur atas bantuan yang diberikan pemerintah.

“Lumayan sekali, Pak. Kami sudah sangat puas dengan bantuan yang pemerintah bawa ke sini,” ujar Frenky dalam tayangan Primetime News Metro TV, Kamis 27 Agustus 2026.

Frenky menyebut sejumlah kebutuhan pokok telah diterima warga selama berada di pengungsian.

“Macam telur, terus beras, terus ini kain panas, begitu. Terus banyak makanan-makanan yang lain juga yang kami rasakan,” katanya.

Menurut Frenky, bantuan tersebut sangat berarti bagi warga yang masih bertahan di pengungsian. Ia juga menyebut sejumlah pejabat telah datang langsung untuk melihat kondisi warga dan memberikan bantuan.

“Pak Menteri Purbaya itu yang pertama. Terus Gubernur Jawa Timur juga, terus Ibu Menteri,” ungkapnya.

Frenky mengatakan bantuan yang diberikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa diantaranya berupa bahan kebutuhan pokok dan selimut.

“Dari Pak Purbaya itu kami rasakan, macam beras, makanan-makanan pokoknya untuk membantu kami yang mengungsi di sini, terus dengan selimut-selimut untuk masyarakat Desa Ranaka,” tuturnya.

Kehadiran pemerintah di lokasi pengungsian juga memberikan rasa lega bagi warga. Frenky mengaku senang karena pemerintah datang langsung menemui masyarakat yang terdampak gempa.

“Kehadiran pemerintah di sini kami sangat senang sekali, Pak,” katanya.

Meski bantuan kebutuhan pokok terus berdatangan, warga menyadari pemulihan tidak akan berlangsung dalam waktu singkat. Kerusakan rumah menjadi persoalan utama yang kini mereka hadapi.

Salah seorang warga, Petro Lela Alon, mengungkapkan rasa syukur atas bantuan yang telah diterima. Ia berharap bencana yang menimpa masyarakat NTT segera berakhir.

“Jadi kami bersyukur dan terima kasih. Semoga bencana-bencana yang kita sedang alami selama ini cukup sampai di sini,” ujar Petro.

Petro mengatakan warga kini memikirkan nasib mereka setelah masa pengungsian berakhir. Sebab, sebagian rumah warga mengalami kerusakan parah hingga tidak lagi dapat ditempati.

“Kami sangat mengharapkan karena kelanjutannya kami berpikir, Pak, kemana kami pergi karena rumah kami sudah hancur semua,” katanya.

Kondisi tersebut membuat warga tidak memiliki kepastian mengenai tempat tinggal setelah mereka meninggalkan tenda pengungsian.

“Kami nanti mau kembali ke mana lagi setelah ini, Pak. Jadi itu yang kami pikir,” ujar Petro.

Karena itu, Petro meminta pemerintah memberikan perhatian terhadap kondisi rumah warga yang rusak akibat gempa. Ia berharap proses perbaikan dapat segera dilakukan.

“Saya tolong kepada semua menteri dan presiden untuk memperhatikan kami. Rumah kami sudah hancur semua. Mungkin itu yang kami sampaikan nanti supaya secepatnya rumah kami semua diperbaiki,” ucap Petro.

Di tengah keterbatasan dan ketidakpastian, bantuan yang datang menjadi secercah harapan bagi warga Desa Ranaka. Senyum anak-anak, kebersamaan warga, serta kepedulian pemerintah dan relawan membuat para penyintas tetap memiliki semangat untuk bangkit.

(Reno Panggalih Nuha Lathifah)


Close Ads X
Close Ads X