12 June 2026 00:58
Memasuki bulan ketiga, konflik di Timur Tengah memunculkan babak baru. Terungkap adanya keretakan taktik dan divergensi strategi antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dalam menghadapi eskalasi serangan dari Iran.
Pakar Strategi PPAU, Agung Sasongkojati, membeberkan bahwa Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kini memiliki tujuan yang saling bertolak belakang. Washington lebih memprioritaskan de-eskalasi demi mengamankan stabilitas ekonomi domestiknya, sementara Netanyahu ngotot ingin menumpas ancaman Iran secara menyeluruh.
"Jadi ada perbedaan divergensi strategis antara Amerika dan Israel. Prioritas strategi dari Amerika adalah stabilitas dan de-eskalasi. Sedangkan di sisi lain, Netanyahu dalam hal ini Israel, tujuan utamanya adalah penghancuran total ancaman Iran," papar Agung Sasongkojati dalam Kontroversi Metro TV, Kamis 11 Juni 2026.
Faktanya, sikap agresif rezim Netanyahu tak bisa lepas dari ketergantungan mutlaknya pada suplai militer Washington. Tanpa dukungan logistik, pesawat pembom, hingga sistem pertahanan udara dari AS, Israel dipastikan kewalahan menghadapi serangan beruntun dari Teheran.
"Tanpa Amerika tidak mungkin ada serangan kepada Iran. Tidak mungkin ada jamming, dan tidak mungkin ada dukungan senjata, karena semua senjata ini praktis 100 persen buatan Amerika," jelas Agung.
Namun, perlindungan habis-habisan ini nyatanya membuat AS kelabakan. Gudang senjata Washington dilaporkan mulai terkuras drastis demi mencegat rudal-rudal murah dari Iran yang jumlahnya jauh lebih masif. Kesuksesan sistem pertahanan sekutu ini harus dibayar dengan harga yang tidak masuk akal.
Lantas, akankah AS benar-benar mengalah pada tuntutan Iran? Mampukah rezim Netanyahu bertahan jika Washington membatasi pasokan persenjataannya?
Kupas tuntas intrik geopolitik, dilema persenjataan, dan adu taktik di Timur Tengah ini program Kontroversi Metro TV episode "AS-Israel, Selisih Jalan Hadapi Iran".