Pakar Kesehatan Ingatkan Risiko Penyakit Bisa Meningkat Saat Kemarau Panjang

21 July 2026 17:05

Pakar kesehatan, Tjandra Yoga Aditama, menyatakan paparan cuaca panas ekstrem dapat menyebabkan dehidrasi dan meningkatkan risiko penyakit yang berhubungan dengan ketersediaan air bersih.

"Upayakan sedapat mungkin berlindung di bawah atap atau bagaimana begitu, atau kalau bisa tentu saja bekerja lebih banyak di dalam ruangan. Atau kalau toh harus keluar ruangan, upayakan tidak keluar ruangan pada saat panas sedang tinggi-tingginya gitu ya. Juga gunakan pakaian yang cerah begitu," ujar Tjandra dalam tayangan Metro Siang Metro TV, Selasa 21 Juli 2026. 

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kondisi ini dipengaruhi dua faktor utama, yaitu musim kemarau yang menurunkan curah hujan dan fenomena El Nino yang mengurangi pasokan uap air ke Indonesia sehingga memperparah kekeringan. Kondisi kering diprediksi mencapai puncak pada Agustus hingga September.

Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Marjuki, mengatakan sejumlah wilayah seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara diprediksi mengalami musim kemarau serta potensi kekeringan hingga November 2026. 

"Kurang lebih sudah 48,77 persen dari luas daratan Indonesia yang sudah masuk musim kemarau dan juga diprediksi akan mengalami durasi musim kemaraunya lebih panjang. Secara umum saya katakan adalah wilayah yang ada di selatan ekuator Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan beberapa wilayah di Sumatra bagian selatan," ucapnya. 

BMKG menyebut kondisi ini dipengaruhi oleh musim kemarau yang terjadi secara alami, yang kemudian diperparah oleh fenomena El Nino berkategori kuat, yang menyebabkan pasokan uap air ke Indonesia berkurang. 

(Reno Panggalih Nuha Lathifah)


Close Ads X
Close Ads X