8 October 2026 22:09
Tiga tahun perang di Gaza, Palestina, telah menewaskan 21.745 anak di bawah usia 18 tahun. Data Himaya Center for Human Rights juga mencatat sekitar 46 ribu anak mengalami luka, termasuk sekitar 11 ribu kasus amputasi anggota tubuh bagian bawah.
Data tersebut tercatat sejak perang dimulai pada Oktober 2023 hingga 3 Oktober 2026. Dalam laporan bertajuk A Generation Under Attack, Himaya Center menyebut anak-anak menjadi salah satu kelompok yang paling terdampak oleh konflik yang berlangsung selama tiga tahun terakhir.
Dampak perang terhadap anak-anak Gaza tidak hanya berupa kematian dan luka fisik. Himaya Center juga mencatat 123 anak meninggal akibat malnutrisi dan dehidrasi. Selain itu, 293 bayi baru lahir dan prematur dilaporkan meninggal di tengah memburuknya layanan kesehatan, pemadaman listrik, serta kelangkaan obat-obatan dan perlengkapan medis.
UNICEF juga mencatat sedikitnya 21.700 anak di Gaza telah dilaporkan tewas hingga 30 Juni 2026. Sekitar 45 ribu anak dilaporkan mengalami luka, termasuk lebih dari 11 ribu anak dengan cedera yang mengubah kehidupan mereka.
Dikutip dari tayangan Metro Hari Ini Metro TV, Kamis 8 Oktober 2026, Tiga tahun lebih perang juga mengubah wajah Gaza secara drastis. Ruas jalan yang sebelumnya ramai dan kawasan padat yang menjadi pusat aktivitas warga kini banyak berubah menjadi bentangan reruntuhan.
Visual sebelum serangan pada 7 Oktober 2023 memperlihatkan kehidupan warga Gaza yang masih berlangsung di tengah blokade, mulai dari jalanan yang dipenuhi lalu lalang warga hingga keluarga yang menghabiskan waktu di pantai. Masjid dan gereja juga terlihat dipenuhi jemaah.
Kondisi tersebut berubah setelah perang berkepanjangan. Kehancuran meluas ke kawasan permukiman dan fasilitas publik, sementara warga harus menghadapi kehilangan anggota keluarga, kerusakan tempat tinggal, pengungsian, serta terbatasnya akses terhadap layanan dasar.
Perang juga membuat kehidupan anak-anak Gaza jauh dari kondisi normal. UNICEF mencatat setidaknya 1,3 juta orang di Gaza masih mengungsi, banyak di antaranya telah mengalami perpindahan berulang kali. Kondisi tersebut turut meningkatkan kebutuhan anak-anak terhadap perlindungan, layanan kesehatan, pendidikan, serta dukungan psikososial.
Dampak tersebut terus berlanjut bahkan setelah gencatan senjata diumumkan pada Oktober 2025. UNICEF melaporkan 277 anak di Gaza telah dilaporkan tewas sejak 10 Oktober 2025 hingga Juni 2026. Hampir sembilan dari sepuluh anak yang berkonsultasi juga disebut membutuhkan dukungan psikososial.
Kondisi tempat tinggal juga menjadi persoalan besar. UNICEF pada September 2026 menyebut hampir 84 persen populasi Gaza, atau lebih dari 1,76 juta orang, masih tinggal di lokasi pengungsian yang padat atau tempat tinggal yang rusak dan tidak layak. Kondisi tersebut membuat anak-anak semakin rentan terhadap cuaca ekstrem, penyakit pernapasan, penyakit yang ditularkan melalui air, serta hipotermia.