Tiga Tahun Genosida di Gaza, 74 Ribu Warga Palestina Jadi Korban

Tiga tahun serangan Israel ke Gaza bawa petaka terhadap warga Palestina. Foto: Anadolu

Tiga Tahun Genosida di Gaza, 74 Ribu Warga Palestina Jadi Korban

Fajar Nugraha • 8 October 2026 08:26

Gaza: Genosida yang dilakukan Israel di Gaza memasuki tiga tahun dan dunia masih tetap diam.

Hind Rajab, gadis kecil yang memohon pertolongan dari dalam mobil yang sedang diberondong tembakan. Refaat Alareer, sang penyair dan guru. Khaled Nabhan, kakek yang menyebut cucu perempuannya yang tewas sebagai "belahan jiwaku." Anas al-Sharif, jurnalis yang meliput dari wilayah utara Gaza.

Mereka hanyalah empat dari lebih dari 74.200 warga Palestina yang tewas selama tiga tahun perang genosida di Gaza. Bagi mereka yang masih bertahan hidup, dampak yang dirasakan melampaui sekadar duka dan luka fisik.

Keluarga-keluarga telah berulang kali mengungsi meninggalkan rumah mereka, para orang tua kehilangan mata pencaharian, dan anak-anak tumbuh besar di tengah pengungsian, kelaparan, serta hancurnya sekolah dan layanan kesehatan.

Gencatan senjata pada Oktober 2025 memang mengurangi intensitas pertempuran, namun tidak menghentikan pembunuhan ataupun memungkinkan sebagian besar penduduk untuk kembali ke rumah mereka.

Berikut adalah gambaran dampak kemanusiaan berdasarkan data yang tersedia dan dikutip dari Anadolu, Kamis 8 Oktober 2026:.

Kematian, cedera, dan kehilangan orang terkasih

Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan 74.237 kematian dan 175.206 kasus cedera per tanggal 4 Oktober.

Jumlah korban tewas yang tercatat saja setara dengan sekitar 3,4% dari perkiraan populasi Gaza sebelum perang yang berjumlah 2,2 juta jiwa atau kira-kira satu dari setiap 30 penduduk.

Dari 71.444 korban tewas yang teridentifikasi berdasarkan usia dan jenis kelamin hingga 31 Desember 2025, sebanyak 47,7% adalah laki-laki, 29,8% anak-anak, 15,4% perempuan, dan 7,1% lanjut usia, menurut data Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA).

Pada Oktober 2023 saja, tercatat 8.805 warga Palestina tewas, menurut data Klaster Kesehatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Ribuan warga Palestina lainnya diyakini masih hilang dan terkubur di bawah reruntuhan bangunan. Dalam sebuah pernyataan tertanggal 3 Oktober, Hemaya Center for Human Rights menyatakan telah mendokumentasikan kematian 21.745 anak dan sekitar 46.000 kasus cedera pada anak sejak Oktober 2023, termasuk 11.000 kasus amputasi anggota tubuh bagian bawah.

Pusat tersebut juga melaporkan 123 kematian anak akibat malnutrisi dan dehidrasi, serta 293 kematian bayi baru lahir prematur di tengah memburuknya layanan kesehatan, pemadaman listrik, serta kelangkaan obat-obatan dan pasokan.

Besarnya dampak kehilangan anggota keluarga sudah terlihat jelas bahkan dalam tahun pertama perang.

Sebuah jajak pendapat oleh Palestinian Center for Policy and Survey Research yang dilakukan antara 26 Mei dan 1 Juni 2024 menemukan bahwa 61% responden di Gaza menyatakan ada anggota keluarga mereka yang tewas. Sekitar 78% responden mengatakan ada kerabat mereka yang tewas atau terluka.

Survei tersebut mencakup wilayah yang dapat diakses di Gaza bagian tengah dan selatan, namun tidak mencakup wilayah utara maupun zona pertempuran aktif.

Pengungsian berulang kali, minimnya rumah untuk kembali

Penghancuran perumahan yang dilakukan Israel telah menciptakan salah satu tantangan kemanusiaan jangka panjang terbesar di Gaza.

Menurut perkiraan PBB, hampir 1,9 juta warga Palestina atau sekitar 90% dari populasi Gaza telah mengungsi selama perang berlangsung. Banyak di antara mereka terpaksa berpindah tempat berkali-kali.

Bagi banyak keluarga, kondisi pengungsian menjadi berkepanjangan karena rumah mereka telah hancur atau tidak lagi aman untuk dihuni.

Sebuah penilaian yang dilakukan oleh Bank Dunia, PBB, dan Uni Eropa serta diterbitkan pada bulan April menemukan bahwa 371.888 unit hunian telah rusak atau hancur, yang mencakup sekitar 77% dari total persediaan perumahan di Gaza. Temuan tersebut mencakup kerusakan hingga Oktober 2025.

Secara terpisah, Biro Pusat Statistik Palestina menyatakan bahwa sekitar 201.290 bangunan telah mengalami kerusakan hingga 16 Juni 2026 atau sekitar 82% dari seluruh bangunan di Gaza. Dari jumlah tersebut, 134.422 bangunan hancur total.

Menurut penilaian Shelter Cluster yang dikutip oleh OCHA dan didasarkan pada survei bulan Juni, sekitar 94% penduduk Gaza membutuhkan bantuan hunian dan perlengkapan rumah tangga dasar. Pada saat itu, hingga 65% rumah tangga tinggal di tenda atau bangunan darurat yang hanya memberikan perlindungan minim terhadap cuaca.

Temuan tersebut menggambarkan kurangnya perlindungan dari cuaca, kondisi hunian sementara yang kian memburuk, serta terbatasnya akses ke layanan penting, yang membuat keluarga-keluarga tersebut terpapar risiko kesehatan dan keselamatan yang serius.

Lebih dari separuh rumah tangga yang tinggal di tenda telah menggunakan tenda yang sama selama lebih dari setahun, sementara lebih dari separuh tenda dan hunian darurat yang disurvei berada dalam kondisi buruk atau sangat buruk.

OCHA juga telah mengidentifikasi ratusan lokasi pengungsian yang berisiko banjir, sehingga menambah risiko bagi ratusan ribu orang yang tinggal di hunian sementara tersebut.


Mata pencaharian hancur

Kehancuran ini juga telah melenyapkan sarana bagi keluarga-keluarga untuk menopang kehidupan mereka.

Sebuah laporan PBB mengenai Perdagangan dan Pembangunan yang dirilis pada 24 September memperkirakan bahwa 92% unit usaha ekonomi di Gaza telah rusak atau hancur sejak Oktober 2023; konflik tersebut telah melenyapkan ratusan ribu lapangan kerja dan menghilangkan pendapatan tenaga kerja yang tidak terealisasi senilai miliaran dolar di seluruh wilayah pendudukan Palestina.

Tingkat pengangguran di Gaza mencapai 78%, sementara lebih dari 90% penduduk usia kerja tidak memiliki pekerjaan.

Produksi ekonomi tahunan per kapita wilayah tersebut turun menjadi $212 pada tahun 2025, hanya 17% dari tingkat tahun 2022.

Sementara itu, harga-harga pada tahun 2025 tetap berada 274% di atas tingkat tahun 2022, dengan barang-barang kebutuhan pokok seperti kentang dan gas masak yang harganya melonjak hingga beberapa kali lipat dari harga sebelumnya, menurut laporan tersebut.

Keruntuhan ini telah berdampak pada hampir setiap sektor produktif. Output pertanian dan industri masing-masing anjlok hingga 94% di bawah tingkat tahun 2022, sementara sektor konstruksi merosot 99%.

Kelaparan dan ketergantungan pada bantuan

Rusaknya lahan pertanian dan hilangnya pendapatan rumah tangga membuat banyak keluarga kesulitan mendapatkan cukup makanan.

Kurang dari 1,5% lahan pertanian di Gaza yang masih dapat diakses dan tidak rusak, menurut badan PBB untuk Perdagangan dan Pembangunan (UN Trade and Development).

"Ketahanan pangan sepenuhnya bergantung pada bantuan. Sebagian besar penduduk Gaza, termasuk anak-anak serta ibu hamil dan menyusui, menghadapi kerawanan pangan akut dan malnutrisi," demikian bunyi laporan UN Trade and Development.

"Anak-anak di bawah usia lima tahun berisiko mengalami kerusakan permanen, termasuk stunting (tengkes), gangguan kognitif, dan hambatan perkembangan yang membahayakan kesehatan jangka panjang mereka," peringatan laporan tersebut.

Kehidupan pasca-gencatan senjata

Kementerian Kesehatan Gaza terus melaporkan adanya korban tewas dan luka-luka meskipun gencatan senjata telah diberlakukan sejak Oktober 2025.

Setidaknya 1.460 warga Palestina tewas dan 5.116 orang terluka sejak gencatan senjata Oktober 2025, di samping ditemukannya 835 jenazah.

Lebih dari separuh rumah sakit dan klinik kesehatan primer di Gaza tidak beroperasi, menurut penilaian yang dikutip oleh UN Trade and Development.

Hampir 98% bangunan sekolah di Gaza telah rusak sejak Oktober 2023, dengan lebih dari 93% di antaranya memerlukan perbaikan besar atau pembangunan ulang secara menyeluruh, menurut UNICEF.

Sekitar 541.000 siswa kembali bersekolah pada bulan September -berdasarkan data Palestina- di mana banyak di antaranya belajar di ruang kelas darurat tanpa perlengkapan dasar.

Kembalinya siswa ke sekolah ini terjadi setelah pendidikan mereka terganggu selama bertahun-tahun. UNICEF menyatakan bahwa 700.000 anak berusia empat hingga 17 tahun telah kehilangan akses ke sekolah tatap muka formal selama tiga tahun berturut-turut, termasuk sekitar 420.000 anak yang sama sekali tidak mendapatkan pembelajaran tatap muka.

Laporan terbaru UN Trade and Development memperkirakan kebutuhan pemulihan dan rekonstruksi mencapai USD71,5 miliar, seraya memperingatkan bahwa angka tersebut dapat meningkat seiring dengan tercatatnya kerusakan lebih lanjut.

(Fajar Nugraha)