22 October 2026 19:35
Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggunakan dry ice atau es kering sebagai salah satu metode pendukung untuk membantu mengatasi kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Penggunaan metode ini ditujukan untuk memperbaiki jarak pandang agar operasi pemadaman, termasuk water bombing dan operasi modifikasi cuaca (OMC), dapat berjalan lebih optimal.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menjelaskan, dry ice merupakan karbon dioksida padat dengan suhu sekitar minus 78,5 derajat Celsius. Material ini ditaburkan pada lapisan atmosfer yang mengalami inversi, yakni kondisi ketika lapisan udara menghambat pencampuran udara sehingga asap dapat terperangkap dan menumpuk.
Menurut Berton, penaburan dry ice diharapkan menghasilkan pendinginan lokal yang dapat mengganggu kondisi inversi tersebut. Dengan demikian, pencampuran udara diharapkan berlangsung lebih baik sehingga asap dapat menyebar dan jarak pandang berpotensi meningkat.
“Dampak langsungnya adalah perbaikan jarak pandang, karena selama ini kita tahu jarak pandang terlalu tebal untuk melakukan operasi water bombing maupun OMC,” ujar Berton dalam tayangan Metro Hari Ini Metro TV, Kamis 22 Oktober 2026.
Selain itu, Berton menjelaskan suhu dry ice yang sangat rendah berpotensi memicu kondensasi titik-titik air di atmosfer. Sementara itu, upaya untuk memicu hujan tetap dilakukan melalui OMC dengan menggunakan natrium klorida (NaCl) atau garam, sesuai kondisi awan yang tersedia.
Meski demikian, Berton menegaskan dry ice bukan metode utama untuk memadamkan api karhutla. Pemadaman langsung tetap mengandalkan Satgas Darat, termasuk upaya mendinginkan bara yang berada di bawah permukaan gambut.
“Sebenarnya ini bukan yang utama, yang utama itu tetap Satgas Darat melakukan upaya-upaya,” katanya.
Penggunaan dry ice juga menghadapi kendala distribusi. Berton menyebut produksinya terkonsentrasi di sejumlah wilayah di Pulau Jawa, seperti Jababeka, Cibitung, dan Cikarang. Material tersebut perlu dikirim ke wilayah operasi, termasuk Kalimantan dan Sumatra, dengan memperhitungkan waktu perjalanan karena dry ice dapat menyublim selama pengiriman.
BNPB telah berkoordinasi dengan produsen untuk menjaga ketersediaan pasokan selama kondisi darurat. Pemerintah juga terbuka terhadap bantuan internasional, terutama untuk memperoleh teknologi atau metode tambahan yang belum tersedia di dalam negeri.