Warga Palangka Raya Menderita Karena Karhutla

13 October 2026 01:45

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, kian memprihatinkan. Sudah tiga bulan berlalu, kabut asap pekat terus menyelimuti kota dan melumpuhkan berbagai sendi kehidupan, mulai dari kesehatan, ekonomi, pendidikan, hingga transportasi masyarakat.

Pekatnya kabut asap membuat sejumlah ikon kota, seperti Monumen Talawang di area Bundaran Besar, nyaris tak terlihat. Indah Restuati, salah satu warga Palangka Raya, mengungkapkan bahwa masyarakat terpaksa beraktivitas di luar rumah di tengah kepungan polutan berbahaya karena tuntutan untuk bertahan hidup.

"Tentu bagi saya ini merupakan suatu keterpaksaan, di mana mau tidak mau masyarakat tetap harus melakukan aktivitas atau kegiatan secara normal di tengah situasi dan kondisi yang saat ini sama sekali tidak normal," ungkap Indah dikutip dari Metro Hari Ini, Metro TV, Selasa 13 Oktober 2026. 
 



Dampak buruk paparan asap terhadap kesehatan warga sudah sangat terasa. Berdasarkan informasi, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Palangka Raya telah menembus angka 11.000 kasus.

"Saya merasakan ini sekarang mata saya perih, merah, dan juga iritasi. Saya juga setiap keluar dari rumah melakukan aktivitas di luar rumah juga sesak napas dan juga batuk-batuk," tambahnya.

Krisis lingkungan ini memicu efek domino yang meluas. Pendapatan para pelaku UMKM dan pedagang pasar tradisional merosot tajam. Di sektor pendidikan, para siswa terpaksa menjalani Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara daring sejak 27 Agustus lalu. Sementara di sektor transportasi, jarak pandang di Bandara Tjilik Riwut menurun drastis menjadi hanya 300 hingga 500 meter, yang berimbas pada penundaan dan pembatalan sejumlah penerbangan sejak 17 September.

Melihat situasi yang semakin kritis, Indah bersama relawan Emergency Response Palangka Raya tergerak untuk turun langsung membantu petugas pemadam kebakaran. Dari pantauannya di lapangan, ia menyebut petugas harus bertaruh nyawa dengan kondisi kekurangan personel dan minimnya peralatan.

Saat ini, para relawan dan petugas pemadam sangat mendesak adanya bantuan logistik yang lebih masif, terutama oksigen yang kini kian langka di pasaran.

"Kemarin itu sempat stoknya langka ya untuk masker, namun saat ini yang paling dibutuhkan adalah stok untuk oksigen. Oksigen di sini juga cukup langka dan cukup sulit untuk didapatkan. Selain itu juga butuh bantuan pasokan logistik seperti vitamin dan obat-obatan bagi para petugas," ujar Indah.

(Sofia Zakiah)


Close Ads X
Close Ads X