Jakarta: Mundurnya Naniek S Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) sempat membuat publik terkejut, karena dia belum genap dua bulan menjabat. Naniek mengunggah sebuah foto di media sosial Facebook pribadinya yang menyatakan dirinya mengundurkan diri dari jabatan Kepala BGN pada Rabu, 22 Juli 2026.
Naniek mengklaim sudah mendapatkan izin sekaligus berpamitan dengan Presiden Prabowo Subianto. Keputusan ini diambil dengan alasan Naniek harus menjalani pengobatan jantung di luar negeri.
Dalam unggahannya yang terpisah, Naniek juga bercerita kalau ia sempat terbaring sakit selama 9 hari sebelum mengikuti sidang kabinet pada Senin, 21 Juli lalu.
Berdasarkan diagnosis dokter yang ditulisnya, Naniek juga mengalami sumbatan arteri jantung yang dipicu oleh kolesterol tinggi dan tingkat stres yang tinggi selama menjabat sebagai Kepala BGN.
Sepak terjang Naniek S Deyang
Perempuan kelahiran Madiun, Jawa Timur pada 3 Januari 1968 ini sudah berada di lingkaran Presiden Prabowo Subianto sejak 2019. Ia pernah menjadi Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional Koalisi Adil Makmur yang mengusung pasangan calon Presiden Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno pada 2019.
Kemudian pada 2024, ia menjabat sebagai Wakil Kepala I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan sejak Presiden Prabowo Subianto dilantik pada bulan Oktober. Tidak hanya ditempatkan di Lembaga Negara, ia juga sempat diangkat menjadi Komisaris melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan Pertamina pada 12 Juni 2025. Kemudian pada Septembe, ia dipilih menjadi Wakil Kepala BGN dan diangkat menjadi Kepala BGN ketika ex-Kepala BGN Dadan Hindayana terserat kasus korupsi.
Namun keputusan Naniek untuk mundur dari jabatan Kepala BGN tak serta-merta menghilangkan tanggung jawabnya karena arahan dari Presiden Prabowo Subianto, melalui dari Mensesneg menyampaikan, meskipun Naniek mundur dari Kepala BGN, ia tetap akan dilibatkan dalam pengawasan BGN.
Mensesneg mengatakan bahwa dengan pengalamannya, Bapak Presiden merasa Ibu Naniek masih bisa untuk memberikan kontribusi yang optimal dalam pengawasan di BGN. Mensesneg juga menegaskan Presiden Prabowo masih meminta Naniek untuk mengawal, menyukseskan, dan bersama-sama dengan pimpinan yang baru untuk memperbaiki tata kelola di BGN.
Sosok pengganti Naniek menjadi Kepala BGN
Presiden Prabowo Subianto menunjuk Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, sebagai Kepala BGN yang baru. Pelantikan telah dilakukan di Istana Negara pada Rabu, 22 Juli.
Mensesneg juga menjelaskan sejumlah pertimbangan penunjukan Sudaryono sebagai Kepala BGN, di antaranya adalah Sudaryono sudah sejak awal terlibat dalam merancang, menggagas, hingga mengonsep teknis pelaksanaan program
makan bergizi gratis (MBG). Dan dipastikan juga bahwa Sudaryono tidak rangkap jabatan.
Rekam jejak Sudaryono
Sudaryono dari tahun 2014 pernah menjadi Corporate Secretary di Nusantara Energy, kemudian pada 2018 menjadi CEO Geruda TV dan CEO PT Nusantara Telematics Systems di tahun 2019, kemudian menjadi Chairman PT Sahabat Sejati Sejahtera Farma di tahun 2020. Dan pada 2024, ia menjadi Wakil Menteri Pertanian di era Presiden ke-7 Joko Widodo, dan kemudian pada 2025 kembali dilantik menjadi Wamentan oleh Presiden Prabowo Subianto.
BGN Lantik 5 Pejabat Madya Baru
Selain pelantikan Kepala BGN yang baru, BGN juga baru saja melantik 5 pejabat madya baru. Yang pertama adalah Prima Yosephine Berliana Tumiur Hutapea sebagai Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelolah BGN. Ia sebelumnya menjabat sebagai Direktur Penyakit Menular di Kemenkes.
Yang kedua adalah Zainuri sebagai Deputi Bidang Penyediaan dan Penyaluran, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Biro Keuangan BPKP.
Yang ketiga Mariman Darto sebagai Deputi Bidang Promosi dan Kerjasama, yang sebelumnya adalah Staf Ahli Bidang Manajemen Talenta Kemendikdasmen. Kemudian Ketut Sumedana sebagai Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan, yang sebelumnya adalah Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan. Dan terakhir Lili Khamiliyah sebagai Sekretaris Utama BGN, yang sebelumnya adalah Kepala Biro Umum dan Keuangan BGN.
Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari menuturkan, dengan bergabungnya deputi yang baru tersebut, kapasitas kelembagaan BGN dinilai akan semakin kuat. Perbaikan tata kelola akan tetap menjadi fokus utama yang dilakukan oleh BGN. Terkait pendanaan, ia menyebutkan bahwa efisiensi anggaran telah dilakukan untuk program BGN sebesar Rp39 Triliun, dari yang sebelumnya adalah Rp268 Triliun, menjadi Rp229 Triliun.
Meski begitu, angka tersebut belum final karena MBGN masih meninjau secara menyeluruh terhadap tata kelola program. Dan hal tersebut termasuk pada validasi ulang terhadap 63,9 juta sasaran penerima dari manfaat MBG.
Sumber: Redaksi Metro TV