Jakarta: Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya meninggalkan kerusakan pada ekosistem dan lingkungan sekitar. Asap yang dihasilkan juga dapat menyebar jauh dari lokasi kebakaran dan membawa berbagai risiko bagi kesehatan manusia, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak.
Melansir Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), perubahan iklim turut meningkatkan frekuensi dan tingkat keparahan kebakaran hutan di berbagai wilayah. Asap karhutla juga dapat menyebar hingga melintasi wilayah dan negara sehingga menurunkan kualitas udara secara drastis dalam waktu singkat.
Dampak Buruk Asap Karhutla Bagi Kesehatan
Tingkat bahaya asap karhutla terhadap tubuh manusia dipengaruhi oleh sumber bahan yang terbakar serta komposisi kimia asapnya. Selain risiko cedera fisik, luka bakar, hingga kematian akibat terpapar api secara langsung, berikut beberapa dampak buruk asap
karhutla bagi kesehatan:
1. Gejala Ringan hingga Iritasi
Paparan asap karhutla dapat memicu sakit kepala, iritasi pada mata, serta gangguan pada saluran pernapasan. WHO menyebut gejala lain yang dapat muncul antara lain batuk, pusing, mengi, dan iritasi tenggorokan.
2. Gangguan Pernapasan Akut
Asap
karhutla dapat memicu atau memperburuk gangguan pernapasan, termasuk serangan asma dan sesak napas. Pada paparan yang lebih berat, kondisi tersebut dapat menyebabkan seseorang membutuhkan penanganan medis.
3. Masalah Kardiovaskular
Partikel halus dalam asap, terutama PM2.5, dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan sebagian dapat mencapai aliran darah. Paparan tersebut berkaitan dengan berbagai dampak terhadap sistem kardiovaskular.
WHO juga mencatat gangguan seperti jantung berdebar atau palpitasi dapat terjadi akibat paparan asap kebakaran.
4. Meningkatkan Risiko Kematian Prematur
Paparan asap
karhutla dalam jangka pendek di wilayah terdampak juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian akut dan kematian prematur. Risiko tersebut dapat berbeda bergantung pada tingkat paparan serta kondisi kesehatan seseorang.
Beberapa kelompok juga lebih rentan terhadap dampak asap karhutla, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit pernapasan atau kardiovaskular.
Nah, asap
karhutla ternyata bukan sekadar mengganggu jarak pandang atau membuat udara terasa tidak nyaman. Paparan asap dapat berdampak pada sistem pernapasan hingga kardiovaskular. Karena itu, ketika kualitas udara memburuk akibat karhutla, sebaiknya kurangi aktivitas di luar ruangan, ikuti informasi dari otoritas setempat, dan gunakan masker yang sesuai jika harus beraktivitas di luar.
Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di
Metrotvnews.com.
(Sofwa Najla Tsabita Sunanto)