Trauma Tsunami 1992, Warga Sikka Pilih Mengungsi di Sampan saat Gempa Susulan

27 August 2026 23:00

Pascagempa tektonik bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores beberapa waktu lalu, sejumlah warga Desa Wuring Laut, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), memilih cara unik untuk menyelamatkan diri. Alih-alih menuju posko pengungsian darat, mereka justru merasa lebih aman mengungsi di atas sampan.

Keputusan warga untuk bertahan di laut ini dipicu oleh trauma mendalam akibat tragedi tsunami besar yang melanda wilayah tersebut pada tahun 1992 silam. Bagi warga desa yang rumahnya berdiri di atas permukaan laut ini, sampan dianggap sebagai tempat perlindungan paling logis saat gempa susulan terjadi.

Merasa Lebih Aman di Tengah Laut


Tawin, salah seorang warga Desa Wuring Laut, menuturkan bahwa pengalaman pahit masa lalu mengajarkan mereka bahwa berada di tengah laut jauh lebih aman saat terjadi tsunami dibandingkan berada di bibir pantai.

"Kita merasa aman di sampan. Kalau datang tsunami, kita harus ke laut lagi, sekitar 15 meter dari pesisir. Kejadian tahun 1992 dulu, tsunami hanya kena di pantai saja, tidak sampai ke laut (dalam)," kata Tawin dikutip dari tayangan Metro Hari Ini, Metro TV, Kamis, 27 Agustus 2026.

Tawin menjelaskan, bahwa satu sampan miliknya bisa menampung hingga 10 orang, termasuk anak-anak. Setiap kali gempa susulan dirasakan, seperti yang terjadi pada pukul 22.00 WITA dan 05.00 WITA baru-baru ini, warga akan langsung bergegas turun dari rumah menuju sampan-sampan yang tertambat di dermaga.
 


Jarak Pengungsian Terpusat yang Jauh


Selain faktor trauma, jarak menjadi alasan lain warga enggan mengungsi ke lokasi yang disediakan pemerintah. Diketahui, pengungsian terpusat di Lapangan Gelora Samador berjarak sekitar lima kilometer dari Desa Wuring Laut. Sebagai masyarakat nelayan yang sudah terbiasa dengan kehidupan di air, mereka lebih memilih evakuasi mandiri di atas kapal atau teras rumah.

Aktivitas Nelayan Lumpuh Sementara


Meski sebagian warga mulai mencoba kembali ke rumah masing-masing setelah 12 hari pasca-gempa, aktivitas ekonomi desa tersebut masih lumpuh. Banyak nelayan yang hingga kini belum berani melaut untuk mencari ikan karena masih menunggu imbauan resmi dari pemerintah terkait batas aman aktivitas di laut.

"Sementara ini belum melaut karena masih trauma. Kami tunggu dulu dari pemerintah. Kalau rasanya sudah aman, baru kami bisa melaut lagi," ucap Tawin.

Hingga saat ini, warga Desa Wuring Laut tetap waspada. Meski pemerintah telah menyediakan fasilitas pengungsian, kearifan lokal dan pengalaman sejarah menjadi pegangan utama mereka dalam menghadapi ancaman bencana di pesisir Sikka.

(Nopita Dewi)


Close Ads X
Close Ads X