22 August 2026 14:22
Moskow: Sudaryanto, atau yang akrab disapa Pak Yanto, merupakan eksil 1965 asal Talun, Blitar, Jawa Timur, yang kini menetap di Moskow, Rusia. Puluhan tahun hidup jauh dari Indonesia tak membuat kecintaannya terhadap tanah air luntur.
Pada era 1960-an, Sudaryanto dikirim ke Uni Soviet untuk memperdalam ilmu koperasi. Namun, perubahan politik membuatnya menjadi eksil dan tidak dapat kembali ke Indonesia.
Ia kemudian melanjutkan kehidupannya di Moskow. Sudaryanto menghabiskan sekitar 40 tahun berkecimpung di bidang pendidikan, setelah sebelumnya bekerja di laboratorium.
"Karena tidak dipulihkan, melanjutkan di sini kerja. Dan kerja saya itu kan tadinya mula-mulanya itu di laboratorium dan kemudian di pendidikan. Pendidikan itu bagi saya yang pokok. Karena di bidang pendidikan saya sekitar 40 tahun," ujar Sudaryanto dalam tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Sabtu 22 Agustus 2026.
Pada Juni 2023, Presiden Joko Widodo menghadirkan Sudaryanto dalam peluncuran program penyelesaian non-yudisial pelanggaran HAM berat di Pidie, Aceh. Saat itu, pemerintah memberikan pemulihan hak awal dan menawarkan kesempatan kepada Sudaryanto untuk kembali menjadi warga negara Indonesia.
Namun, keputusan tersebut tidak mudah. Setelah puluhan tahun menetap di Rusia, keluarga Sudaryanto telah berakar di negara tersebut.
Bagi Sudaryanto, kewarganegaraan bukan satu-satunya ukuran kecintaan terhadap tanah air. Ia menilai paspor hanyalah dokumen, sementara Indonesia tetap menjadi bagian dari dirinya.
"Waduh tetap, paspor itu kan cuma kertas aja. Jadi yang penting memang itu jiwanya itu harus dipelihara," kata Sudaryanto.
Kini di masa pensiun, Sudaryanto masih memikirkan bagaimana ilmu koperasi yang dipelajarinya dapat bermanfaat bagi Indonesia. Ia menilai koperasi seharusnya mampu memberdayakan anggotanya, bukan sekadar menjadi perantara dalam pasar.
"Kalau sekarang ini yang menguasai pasar itu ada orang ketiga. Jadi kita koperasi hanya sebagai perantara saja paling-paling," ujarnya.
Puluhan tahun di Moskow membuat hubungan Sudaryanto dengan Indonesia justru terasa semakin kuat. Baginya, Indonesia bukan sekadar persoalan paspor atau status kewarganegaraan, melainkan ingatan, pengabdian, dan jati diri yang terus ia pelihara dari jauh.