Bedah Editorial MI: Cermat Merespons Dialog AS

15 May 2026 10:37

MASIH berlangsung hingga hari ini di Beijing, arah angin pertemuan Presiden Tiongkok Xi Jinping dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sudah mulai terbaca. Tidak berbeda dari awal inisiasi pertemuan itu, Beijing tampak di atas angin.

Beijing telah di atas angin sejak awal karena meski secara formalitas sebagai pengundang, pertemuan kenegaraan ini merupakan permintaan Trump sejak tahun lalu. Walaupun Trump terus pamer arogansi sepanjang tahun ini, baik lewat penetapan tarif perdagangan maupun serangan ke Iran, nyatanya ia pula yang datang dengan banyak permintaan ke Tingkok.

Trump mengatakan membawa agenda soal Iran, produk pertanian, sampai artificial intelligence (AI).  Ia pun membawa bos-bos perusahaan raksasa teknologi AS sebagai daya jual bagi Beijing.

Di sisi lain, isu yang menarik bagi Beijing hanya satu. Itu adalah Taiwan. Dalam pertemuan, Xi terang-terangan mengatakan bahwa jika isu itu tidak ditangani dengan baik maka dapat mendorong hubungan bilateral kedua negara ke posisi yang 'berbahaya'. 

Bahkan dalam kata sambutannya, Xi mengeluarkan ancaman halus lewat pertanyaan apakah kedua negara dapat menghindari 'jebakan Thucydides'. Ini merupakan istilah untuk kondisi ketegangan panjang antara kekuatan lama dan baru yang dapat berujung pada perang.
 



Tiongkok mungkin sebenarnya juga punya banyak permintaan ke AS. Secara logika, negara mana yang suka dikenai tarif bea masuk tinggi. Belum lagi AS juga masih memblokade kapal-kapal tanker Tiongkok di Selat Hormuz. Namun sikap Xi yang lugas menyebutkan satu isu sebagai kartu mati pertemuan, telah menegaskan arah angin itu. Ia seolah ingin menunjukkan bahwa apa pun tekanan AS, tidak membuat mereka goyah. Negosiasi hanya bisa terbuka jika permintaan utama mereka diperhatikan.

Satu gestur dari Tiongkok inilah yang harus dicermati dunia dari pertemuan itu, termasuk Indonesia. Permintaan Tiongkok memang hanya satu, tetapi dampaknya bisa luas. Bukan hanya pada stabilitas dunia, ataupun sebaliknya, ketidakstabilan baru, kelanjutannya adalah dampak pada ekonomi hingga teknologi militer. 

Hingga saat ini sikap AS soal Taiwan adalah tidak mendukung kemerdekaan, meskipun di sisi lain memasok senjata bagi mereka. Sementara itu Beijing menginginkan AS tegas menolak kemerdekaan Taiwan. Peringatan halus Xi soal Jebakan Thucydides memberi sinyal bahwa Beijing punya batas kesabaran soal 'muka dua' AS soal Taiwan. 

Kita tentu berharap jangan sampai ada perang baru lagi di tengah situasi global yang sudah genting saat ini. Namun di sisi lain, dunia juga harus sama waspadanya jika permintaan Beijing itu direspons, atau sedikitnya mendapat angin segar dari AS. 

Perbaikan hubungan bilateral Tiongkok-AS jelas akan membuat keduanya makin menjadi kekuatan utama perdagangan dunia. Perbaikan hubungan kedua negara akan membuat komoditas-komoditas penting, baik di masa sekarang maupun mendatang, seperti kedelai untuk pangan hingga mineral tanah jarang untuk teknologi AI dan militer akan didominasi mereka.
 
Karena itu sesungguhnya pesan bagi dunia dari pertemuan ini ialah bahwa stabilitas dunia merupakan hal yang rentan. Meski negara-negara adidaya itu merupakan mitra penting, negara-negara lain mesti terus menguatkan organisasi dan kerja sama multilateral di berbagai kawasan.

Begitu pun bagi Indonesia, dinamika hubungan Tiongkok-AS harus memperjelas fokus di berbagai kerja sama bilateral dan multilateral yang dijalin. Kerja sama itu bukan hanya harus membawa keuntungan nyata saat ini melainkan juga memastikan mitra-mitra yang dapat diandalkan dalam situasi krisis.

Mulailah dari yang paling dekat. Indonesia harus dapat memastikan keanggotaan di ASEAN menghasilkan kerja sama-kerja sama yang penting. Sebagai mitra geografis terdekat, negara-negara ASEAN harus dapat menjadi bantalan stabilitas di tengah gejolak dunia yang tak kunjung menemukan kepastian.


Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Gervin Nathaniel Purba)