Karhutla di Palangka Raya Sulit Padam Akibat Bara Api di Kedalaman Gambut

14 October 2026 17:47

Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, hingga saat ini masih bertahan dalam status berbahaya. Sulitnya pemadaman di lapangan tak lepas dari karakteristik khusus lahan gambut yang menyimpan ancaman nyata di bawah permukaan tanah.

Proses pemadaman kebakaran gambut menyajikan medan yang sangat sulit dan penuh risiko bagi petugas maupun warga di lokasi kejadian. Dari luar, permukaan tanah gambut tampak padat dan serupa dengan tanah biasa, namun kerapatan di bawahnya sangat rapuh sehingga dapat ambles saat diinjak.

Hal ini dialami langsung oleh Jurnalis Metro TV, Joy Jones saat mencoba mendekati lokasi kebakaran lahan untuk meliput upaya pemadaman oleh tim kepolisian.

"Tadi saya masuk pemirsa, terperosok ke dalam. Bisa dilihat bahwa terperosok hampir selutut kaki saya, pemirsa. Begitu dalam. Inilah ciri-ciri dari tanah gambut karena kita tidak tahu, mungkin dari luarnya kelihatan sama, namun kita tidak tahu kepadatan tanahnya karena memang itu adalah ciri-ciri dari tanah gambut," ujar Joy Jones dalam tayangan Metro Siang Metro TV, Rabu, 14 Oktober 2026. .

Karakteristik paling berbahaya dari lahan gambut adalah keberadaan bara api yang berada jauh di dalam tanah. Meskipun permukaan luar tidak memperlihatkan kobaran api dan hanya memunculkan asap, bagian dalam tanah gambut sangat panas dan menyimpan bara api berukuran besar. 
 



Kondisi tersebut membuat upaya pemadaman menjadi sangat rumit karena area yang tampak padam pada siang hari dapat kembali menyala dalam hitungan jam.

"Di dalamnya kembali pemirsa, ini sangat panas sekali dan di dalam ini masih terdapat bara api yang sangat besar dan ini bisa berpotensi untuk kembali memicu kebakaran yang sangat besar. Itu juga yang menyulitkan karena pada hari ini siang hari ini mungkin sudah dipadamkan, namun dalam sore hari hitungan jam bara api mungkin kembali bisa naik kembali," jelasnya.

Selain sifat alami tanah gambut, kendala utama pemadaman adalah luasnya wilayah kebakaran serta durasi bencana yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan . Durasi yang sangat panjang ini menguras stamina dan tenaga para petugas pemadam maupun tim kepolisian di lapangan.

Akibat dari kebakaran gambut yang tak kunjung padam ini, lebih dari 11 ribu warga tercatat mengidap infeksi saluran pernapasan (ISPA), jarak pandang di jalan raya anjlok hingga 30 meter, dan sinar matahari di siang hari tertutup biasan warna kuning.

(Firny Firlandini Budi)


Close Ads X
Close Ads X