Menjalani proses pengobatan medis yang panjang dan melelahkan bukanlah hal yang mudah, terlebih bagi anak-anak penderita penyakit kritis dari keluarga prasejahtera. Tidak jarang, mereka bersama orang tua harus merantau jauh dari kampung halaman demi mendapatkan fasilitas kesehatan yang memadai di ibu kota.
Di tengah kerasnya perjuangan tersebut, kehadiran rumah singgah seperti Rumah Harapan Indonesia di kawasan Cideng, Jakarta Pusat, menjadi rumah kedua yang aman dan berarti. Fasilitas ini tidak hanya sekadar tempat bernaung, tetapi juga ruang untuk mengurangi beban psikologis anak-anak selama menjalani rutinitas pengobatan.
Guna mengembalikan keceriaan anak-anak, komunitas sosial Gembira Seharian menginisiasi kegiatan berbagi kebahagiaan di rumah singgah tersebut. Mereka hadir membawakan berbagai program edukatif dan rekreatif, mulai dari permainan interaktif, aktivitas mewarnai, hingga hiburan ringan yang dirancang khusus agar tetap aman bagi kondisi fisik anak-anak.
Founder Komunitas Gembira Seharian, Jihad Jundullah, mengungkapkan bahwa inisiatif ini didasari oleh keinginan untuk saling menghubungkan kebaikan antarmanusia tanpa memandang latar belakang.
"Kami percaya ibu-ibu dan anak-anak di sini punya kebaikan yang bisa dibagikan ke kami juga. Rasanya kita memang harus saling menguatkan dan menjaga. Harapan yang ingin dicapai, kami ingin mengajak lebih banyak anak muda untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitarnya," ujar Jihad dikutip dari
Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Minggu 4 Oktober 2026.
Manfaat dari kegiatan sosial ini sangat dirasakan oleh pihak pengelola. Koordinator Rumah Harapan Indonesia Jakarta, Ichsan Nur Haryono, menyebut bahwa rutinitas medis dari Senin hingga Jumat yang kerap melibatkan tindakan penyuntikan membuat anak-anak rentan mengalami kelelahan mental.
"Kunjungan yang hadir setiap Sabtu dan Minggu itu sangat berdampak untuk psikologis anak-anak. Event mingguan seperti inilah yang paling ditunggu. Jadi, mental anak-anak dan orang tuanya cukup terjaga dengan adanya kegiatan seperti ini," jelas Ichsan.
Bagi para orang tua penyintas, melihat senyum dan tawa sang buah hati adalah kekuatan terbesar di tengah ketidakpastian. Mama Omar, salah satu orang tua pasien, mengaku sangat bersyukur dengan kehadiran para relawan yang sukses mengusir rasa bosan anak-anak di rumah singgah.
Dukungan moral dari masyarakat dan komunitas terbukti menjadi salah satu kebutuhan esensial dalam mendampingi para penyintas penyakit kritis. Melalui langkah-langkah kecil yang tulus, beban berat yang dipikul oleh pasien anak dan keluarganya dapat terasa sedikit lebih ringan.