Jeddah: Menjelang kepulangan ke Tanah Air, berburu oleh-oleh menjadi salah satu aktivitas yang paling dinanti jemaah haji Indonesia sebagai penutup perjalanan ibadah di Tanah Suci. Salah satu yang menarik perhatian adalah tradisi membawa pulang perhiasan dan aksesoris bernuansa emas yang sudah lama melekat di kalangan jemaah haji asal Sulawesi Selatan.
Suasana berbeda terlihat di area tunggu keberangkatan Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, menjelang kepulangan jemaah haji embarkasi Makassar kloter UPG 3.
Di tengah kesibukan menyiapkan barang bawaan, kilau perhiasan berwarna emas tampak mencuri perhatian. Gelang, kalung, cincin hingga beragam aksesoris terpasang di tangan dan leher sejumlah jemaah haji perempuan asal Bone, Sulawesi Selatan.
Perhiasan bernuansa emas menjadi salah satu oleh-oleh favorit yang diburu jemaah selama berada di Tanah Suci. Tak hanya untuk digunakan sendiri, banyak jemaah membelinya sebagai buah tangan bagi keluarga dan kerabat di kampung halaman.
Baik emas asli maupun aksesoris imitasi, produk-produk dengan nuansa keemasan khas Timur Tengah ini tetap menjadi primadona, terutama di kalangan jemaah perempuan.
Tradisi membawa pulang perhiasan dari Tanah Suci telah berlangsung secara turun-temurun di kalangan masyarakat Bugis dan Makassar. Bagi sebagian jemaah, perhiasan tersebut menjadi simbol kebahagiaan dan ungkapan syukur atas kesempatan menunaikan ibadah haji.
Meski demikian, bagi kebanyakan jemaah, perhiasan yang dibeli di Tanah Suci bukan sekadar pelengkap penampilan. Oleh-oleh tersebut menjadi kenangan atas perjalanan spiritual sekaligus bentuk kasih sayang yang ingin dibagikan kepada keluarga dan orang-orang terdekat setelah kembali ke Tanah Air.
Tradisi yang telah berlangsung selama puluhan tahun ini menjadi bagian dari cerita kepulangan mereka setelah menuntaskan rukun Islam kelima.