Awal tahun ini, Indonesia langsung dihadapkan pada ujian cuaca ekstrem. Banjir meluas di sejumlah wilayah Pulau Jawa, merendam ribuan rumah warga, memaksa masyarakat mengungsi, serta melumpuhkan aktivitas ekonomi dan pendidikan .
Curah hujan tinggi yang terjadi secara terus-menerus, diperparah pasang air laut serta dinamika atmosfer global , menyebabkan banjir meluas dari Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat .
Sebaran Wilayah Terdampak Banjir
Berdasarkan pantauan hingga saat ini, sejumlah daerah masih terdeteksi terdampak banjir:
Pasuruan dan Lamongan, Jawa Timur
Banjir merendam delapan desa di Kecamatan Winongan, di antaranya Desa Prodo, Winongan Kidul, Winongan Lor, Bandaran, Lebak, hingga Menyarik. Ribuan kepala keluarga terdampak akibat bencana ini.
Sementara itu luapan Bengawan Jero menggenangi wilayah di lima kecamatan, yakni Kalitengah, Turi, Deket, Glagah, dan Karangbinangun.
Data BPBD Lamongan mencatat hampir 5.000 rumah warga terendam dan 7.125 hektare lahan pertanian terdampak. Banjir juga mengganggu sektor pendidikan dengan 92 lembaga pendidikan terendam .
Karawang dan Bekasi, Jawa Barat
Luapan Sungai Citarum memicu erosi dan mengikis fondasi rumah warga di bantaran sungai Karawang.
Sementara di Bekasi, jebolnya tanggul Sungai Citarum di Kecamatan Muara Gembong menyebabkan air merendam ratusan permukiman warga.
Kudus dan Pati, Jawa Tengah
Di Kudus, banjir sejak 9 Januari 2026 merendam 38 desa di tujuh kecamatan, memaksa lebih dari 2.000 jiwa mengungsi ke 14 lokasi pengungsian. Selain banjir, tanah longsor juga terjadi di 135 titik .
Sementara di Pati, luapan Sungai Silogonggo merendam sekitar 9.000 rumah di 112 desa , dengan ketinggian air mencapai satu meter.
BMKG: Dipicu Bibit Siklon dan Monsun Asia
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, cuaca ekstrem dipicu kehadiran bibit siklon tropis 97s di Samudra Hindia berpadu dengan penguatan Monsun Asia dan fenomena seruakan udara dingin, telah memicu pertumbuhan awan hujan masif di sepanjang pesisir utara Jawa.
Kondisi ini diperparah oleh aktifnya gelombang atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO) dan juga Rossby ekuatorial yang membawa pasokan uap air berlebih sehingga menciptakan cuaca ekstrem dengan intensitas hujan yang melampaui batas normal.
Situasi kian kritis karena hujan ekstrem ini terjadi tepat pada puncak musim hujan dan bersamaan dengan fase bulan baru yang memicu banjir rob. Akibatnya pasang air laut yang tinggi mengunci aliran air dari daratan sehingga limpasan hujan dari wilayah seperti Demak, Kudus hingga Pekalongan tidak bisa mengalir ke laut dan merendam permukiman lebih lama.
BMKG memprediksi potensi cuaca ekstrem masih berlangsung hingga sepekan ke depan , terutama di wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT .
Presiden Instruksikan Penanganan Cepat
Presiden RI menginstruksikan seluruh jajaran pemerintah untuk bergerak cepat menangani dampak banjir serta memperkuat langkah mitigasi bencana , khususnya di wilayah rawan.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan, Presiden juga meminta Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian untuk segera mengidentifikasi wilayah berisiko banjir dan genangan sebagai dasar langkah antisipasi ke depan.
"Presiden langsung memerintahkan kepada kita -seluruh jajaran- untuk penanganan secepat-cepatnya yang berkenaan dengan menimbulkan korban dari setiap kejadian, " jelas Prasetyo.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap waspada , mengikuti arahan petugas, dan memprioritaskan keselamatan di tengah cuaca ekstrem yang masih berlanjut.