Pascagempa bumi yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) lebih dari sepekan lalu, sebagian kehidupan warga di Kabupaten Nagekeo belum sepenuhnya kembali normal. Rasa cemas dan ketakutan akan datangnya gempa susulan membuat sejumlah warga masih memilih bertahan untuk tidur dan beraktivitas di bawah tenda-tenda pengungsian sederhana.
Setiap harinya, pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan, selimut, dan perlengkapan harian menjadi hal yang sangat krusial bagi warga untuk bertahan hidup di tengah segala keterbatasan. Merespons situasi darurat tersebut, bantuan kemanusiaan dari Danantara hadir menyapa para penyintas. Danantara menyalurkan berbagai bantuan logistik guna meringankan beban warga terdampak selama masa tanggap darurat. Bagi para pengungsi, bantuan ini tidak sekadar memenuhi kebutuhan fisik, melainkan menjadi simbol dukungan moral yang menyalakan kembali harapan mereka.
Oliverius Tara Kopa, salah seorang warga terdampak, menuturkan bahwa ketakutan akan gempa susulan menjadi alasan utama ia dan keluarganya enggan kembali ke rumah. Ia sangat bersyukur atas uluran tangan yang datang, terutama bantuan selimut dan makanan yang sangat membantu kelompok rentan seperti ibu-ibu dan anak-anak di malam hari.
"Alasan utama karena setiap kali gempa datang kita kaget. Jadi kami tetap di tempat pengungsian. Kami sangat terima kasih banyak karena sudah ada bantuan, maka kami juga bisa mengharap untuk anak-anak dengan mama-mama ini setiap malam dengan adanya selimut ini berarti kami bisa bertahan," kata Oliverius dikutip dari
Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Rabu 26 Agustus 2026.
Di antara deretan warga yang masih bertahan di tenda, terdapat kisah pilu dari Maria Yufita Ngagho. Maria merasakan langsung kerasnya guncangan gempa yang bahkan sempat melukai tubuhnya.
Saat bencana alam itu terjadi, reruntuhan batu menimpa bagian pinggangnya sehingga menyebabkan cedera. Kini, dalam kondisi fisik yang belum pulih sempurna dan serba terbatas, ia harus menghabiskan hari-harinya di pengungsian.
"Sedang tidur. Masih di tempat tidur. Gempa pertama, tidak lama anak bantu langsung ke tempat tidur. Tidak lama gempa yang kedua sudah saya tidak bisa lagi. Akhirnya pas batunya yang turun tuh dari atas, banyak keluar ke belakang. Akhirnya saya dapat sepotong ke bawah. Akhirnya siapa anak minta tolong, minta tolong akhirnya teman-teman datang. Begitu mereka datang langsung angkat saya, angkat saya keluar. Bantu-bantu terus. Terima kasih banyak ya, terima kasih banyak ya," kata Maria menceritakan detik-detik menegangkan saat gempa menghantam kediamannya.
Bagi Maria, Oliverius, dan warga Nagekeo lainnya, pulang ke rumah bukan sekadar persoalan kembali ke tempat tinggal. Mereka membutuhkan jaminan bahwa struktur bangunan rumah benar-benar aman untuk ditempati, sehingga rasa takut tidak lagi membayangi.
Pascagempa bumi, pemulihan yang paling mendesak tidak hanya menyangkut fisik bangunan, melainkan juga pemulihan rasa aman dan ketenangan batin. Untuk sementara waktu, tenda pengungsian serta aliran bantuan logistik inilah yang menjadi kekuatan utama agar warga mampu melewati masa-masa sulit sebelum memulai hidup kembali dari awal.