Kehilangan rumah dan harta benda bukan satu-satunya derita korban gempa Nusa Tenggara Timur (NTT). Banyak warga juga kehilangan dokumen kependudukan penting seperti KTP-elektronik (KTP-el), Kartu Keluarga (KK), dan akta kelahiran saat lari menyelamatkan diri dari guncangan gempa pada 15 Agustus lalu.
Merespons krisis administrasi tersebut, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kabupaten Nagekeo menggelar layanan jemput bola di posko-posko pengungsian, salah satunya terpantau ramai di Aula Paroki Yesus Kerahiman Ilahi Airamo. Warga terdampak, baik dewasa maupun anak-anak, mengantre untuk melakukan perekaman dan pencetakan dokumen baru agar dapat kembali mengakses layanan publik dan bantuan sosial pascabencana.
Pelayanan ini dipercepat berkat dukungan langsung dari Direktorat Jenderal Dukcapil Kementerian Dalam Negeri yang telah turun ke wilayah Flores sejak 24 Agustus 2026. Sebanyak enam tim khusus diterjunkan untuk menyisir enam kabupaten, mulai dari Manggarai Barat hingga Sikka.
Direktur Jenderal Dukcapil Kemendagri, Teguh Setyabudi, menjelaskan bahwa pihaknya telah mendistribusikan berbagai peralatan pendukung ke lokasi bencana untuk memperlancar pelayanan di lapangan.
"Kami membawa perlengkapan, termasuk Starlink, alat pencetakan dokumen, dan blanko KTP-el yang memadai. Apabila blanko KTP-el kurang, kami sudah tekankan kepada para Kadis untuk segera berkoordinasi agar bisa terpenuhi," terang Teguh dikutip dari
Top News, Metro TV, Rabu 2 September 2026.
Strategi Jemput Bola di Tengah Kendala
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Dukcapil Nagekeo, Oscar Sina, menyebut jajarannya aktif mendatangi posko dan desa-desa terdampak agar warga tidak perlu menempuh perjalanan jauh. Ia mengimbau masyarakat segera melapor ke perangkat desa agar pendataan berjalan efektif.
"Harapannya masyarakat yang mengalami kendala dokumen agar segera berkoordinasi dengan pemerintah desa. Sehingga saat tim turun, semua data sudah ada," jelas Oscar.
Meski antusiasme warga tinggi, pelayanan ini masih diwarnai sejumlah kendala operasional, seperti keterbatasan jaringan internet dan ancaman gempa susulan yang menyulitkan mobilitas peralatan ke beberapa titik rentan.
Kehadiran layanan ini memberikan kelegaan bagi para penyintas. Maria Jogo, salah seorang warga terdampak, mengaku sangat terbantu setelah dompet beserta dokumen pribadinya hilang saat mengevakuasi diri.
"Saya ke sini mau urus KTP yang hilang pas gempa kemarin. Karena lari makanya KTP jatuh sekalian dengan dompet. Terima kasih untuk Dukcapil yang sudah membantu kami mencetak ulang KK dan KTP dengan waktu yang sangat cepat, pelayanannya ramah dan luar biasa," ujar Maria.
Dengan kembalinya dokumen identitas di tangan warga, proses pemulihan pascagempa diharapkan dapat berjalan lebih lancar, memastikan setiap penyintas memiliki akses yang kuat untuk menerima program pemulihan dari pemerintah.