7 March 2026 01:24
Ketegangan di kawasan Timur Tengah mencapai titik didih setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meluncurkan serangan balasan besar-besaran menggunakan pesawat tanpa awak (drone) dan rudal ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Serangan ini dilaporkan menyasar sedikitnya 11 titik strategis yang tersebar di beberapa negara, termasuk Irak, Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, hingga Uni Emirat Arab.
Salah satu dampak paling signifikan terjadi di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar. Dalam serangan tersebut, radar strategis AN/FPS-132 milik Amerika Serikat yang diperkirakan bernilai 1,1 miliar dolar AS (sekitar Rp17 triliun) hancur total. IRGC menyatakan bahwa penghancuran radar ini merupakan bagian dari operasi untuk melumpuhkan sistem pengawasan militer AS di kawasan Teluk.
Kerusakan hebat juga dilaporkan terjadi di Pangkalan Udara Syaikh Isa, Bahrain, di mana 20 drone dan tiga rudal menghantam gedung komando utama serta membakar tangki bahan bakar pesawat. Selain itu, markas Armada Kelima AS di Bahrain yang menjadi pusat operasi angkatan laut juga mengalami kerusakan bangunan yang cukup serius.
Meskipun pangkalan militer di wilayah mereka dihujani rudal, negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Qatar, dan UEA cenderung menunjukkan respons yang pasif dan hanya sebatas kecaman formalitas. Analis Timur Tengah, Muhammad Husein, mengungkapkan bahwa hal ini disebabkan adanya komitmen dari pihak Iran bahwa mereka tidak akan menyerang wilayah kedaulatan negara Teluk, kecuali hanya menargetkan pangkalan militer dan fasilitas-fasilitas yang dimiliki Amerika Serikat.
"Para petinggi Teluk mulai menyadari bahwa militer Amerika ternyata tidak sekuat yang dibayangkan. Pangkalan yang seharusnya menjadi jaminan keamanan justru kini menjadi 'momok' bagi stabilitas dalam negeri mereka," ujar Husein.
| Baca juga: Trump Makin Aneh, Tuntut Peran dalam Pemilihan Pemimpin Tertinggi Iran |