Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali mencatatkan peningkatan aktivitas vulkanik secara masif pada awal September 2026. Rentetan erupsi menerus yang memicu sebaran abu vulkanik hingga ke lima provinsi ini tidak hanya berdampak pada kelumpuhan delapan bandara, tetapi juga menjadi penanda bahwa gunung api tersebut masih terus berproses membangun tubuhnya secara geologis.
Sejarah Lahirnya Anak Krakatau dan Fase Konstruksi
Berada di wilayah Kabupaten Pesawaran, Lampung, dengan luas pulau sekitar 64 hektare, Anak Krakatau lahir dari kaldera sisa letusan dahsyat Krakatau induk pada 1883. Setelah kaldera tersebut beristirahat selama kurang lebih 44 tahun, aktivitas bawah laut kembali bergejolak pada akhir 1927. Kerucut baru secara bertahap menembus permukaan laut antara tahun 1928 hingga 1930, yang kemudian disepakati sebagai tahun lahirnya Gunung Anak Krakatau.
Sejak kemunculannya, gunung ini terus mengalami pertumbuhan melalui fase konstruktif. Material lava dan piroklastik yang disemburkan saat letusan jatuh di sekitarnya dan menumpuk untuk membentuk serta memperbesar tubuh gunung. Meski sempat mengalami penyusutan drastis dari ketinggian 338 meter menjadi 110 meter akibat longsoran tubuh gunung pada tahun 2018, Anak Krakatau secara konsisten terus membangun kembali strukturnya melalui erupsi-erupsi baru.
Rentetan Erupsi 2026
Eskalasi aktivitas teranyar terekam sangat dinamis. Pada Jumat, 4 Septemer 2026 dini hari, tercatat empat letusan beruntun dalam kurun waktu kurang dari dua jam. Memasuki malam hari, gunung berstatus Level III (Siaga) ini memasuki fase erupsi yang lebih intens dengan memuntahkan pancaran lava pijar, menyumbang setidaknya 10 erupsi hanya dalam satu malam. Fase erupsi menerus ini baru mereda pada Minggu, 6 September dini hari, meski letusan susulan masih terekam.
Masifnya letusan menyebabkan lontaran abu vulkanik dalam skala besar. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, memaparkan bahwa sebaran abu vulkanik terbagi ke dalam dua klaster lintasan. Klaster pertama bergerak ke arah timur mencakup Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat pada ketinggian hingga 20.000 kaki. Klaster kedua bergerak lebih tinggi mencapai 50.000 kaki ke arah barat, menyelimuti Lampung, Bengkulu, Selat Sunda, hingga Samudera Hindia.
Ancaman Serius bagi Keselamatan Penerbangan
Dampak langsung dari sebaran abu di udara adalah ancaman fatal bagi keselamatan penerbangan. BMKG harus menerbitkan sekitar 50 SIGMET (Significant Meteorological Information) secara berkala. Otoritas penerbangan meresponsnya dengan menutup sementara delapan bandara, termasuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta, yang berujung pada penundaan dan pembatalan ratusan jadwal terbang.
Abu vulkanik sangat berbahaya bagi pesawat karena partikelnya yang keras, tajam, dan abrasif karena mengandung silika. Jika tersedot ke dalam mesin jet, partikel tersebut dapat meleleh di ruang bakar, menempel pada turbin, menurunkan daya dorong, hingga menyebabkan mesin mati total. Selain itu, abu vulkanik mampu menyumbat sensor kecepatan pesawat, menggores kaca kokpit yang mengganggu jarak pandang pilot, dan membuat landasan pacu menjadi licin.
Bahaya Silika dan 6 Langkah Mitigasi Aman
Bagi masyarakat di wilayah terpapar, abu vulkanik ini membawa risiko kesehatan yang serius. Kandungan utamanya meliputi silikon dioksida, aluminium oksida, besi oksida, hingga silika kristal yang memicu iritasi paru-paru dan risiko silikosis jika terhirup.
Merespons risiko ini, terdapat enam langkah mitigasi aman yang direkomendasikan bagi masyarakat: mengurangi aktivitas di luar ruangan, disiplin mengenakan masker berstandar N95 atau KN95 saat keluar rumah, menggunakan kacamata pelindung untuk mencegah iritasi mata, segera membersihkan diri dan pakaian setelah terpapar abu, mengamankan pasokan air bersih dan makanan agar tidak terkontaminasi, serta segera mengakses fasilitas kesehatan jika mengalami sesak napas berat. Prioritas perlindungan wajib diberikan kepada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita gangguan pernapasan.