2 September 2026 15:42
Aktivitas ekonomi di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), perlahan mulai bangkit kembali sejak wilayah tersebut diguncang gempa, pada 15 Agustus 2026, atau 18 hari pascagempa. Di Kabupaten Ende, misalnya. Para pedagang di Pasar Mbongawangi mulai kembali berjualan, meski harus menghadapi penurunan daya beli masyarakat yang signifikan.
Aktivitas jual beli komoditas pangan, seperti sayuran dan buah-buahan sudah mulai beroperasi. Namun, suasana pasar masih tergolong sepi dibandingkan periode sebelum gempa. Banyak konsumen yang kini lebih memilih membeli makanan siap saji daripada mengolah bahan mentah.
Harni, salah satu pedagang sayur di Pasar Mbongawangi, mengungkapkan bahwa lambatnya perputaran barang menjadi kendala utama. Butuh waktu satu seminggu agar barang dagangannya habis terjual.
"Masih sepi. Sekarang ini masih sepi-sepi. Kalau barangnya ini wortel yang kami ambil 10 kilogram, kadang-kadang dua atau tiga hari. Kentang juga satu karung. Kadang-kadang satu minggu lebih baru habis," ungkapnya dalam tayangan Metro Siang Metro TV, Rabu, 2 September 2026.
Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas dagangan. Akibat stok yang mengendap terlalu lama, banyak sayuran yang membusuk, sehingga terpaksa dibuang. Untuk meminimalisir kerugian, para pedagang menyiasatinya dengan mengiris sayuran yang sudah mulai layu agar tetap bisa dijual dalam kemasan kecil.