M Ilham Ramadhan Avisena • 6 January 2026 19:32
Presiden Prabowo Subianto menilai strategi transformasi yang dicanangkan sejak masa kampanye, mulai menunjukkan hasil konkret. Salah satu capaian utama yang disorot adalah keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian.
Indonesia, kata Prabowo, harus berdiri di atas kekuatan sendiri agar mampu keluar dari jerat kemiskinan dan ketergantungan global.
Ia menilai dinamika geopolitik global justru membuktikan relevansi strategi tersebut. Konflik yang terjadi di negara-negara pemasok pangan dunia menunjukkan risiko besar jika Indonesia terus bergantung pada impor.
"Kita bisa bayangkan, kalau kita tidak swasembada beras di tengah konflik di mana-mana, perang di mana-mana. Sumber impor beras kita adalah Thailand, Vietnam, Kamboja. Sekarang Thailand dan Kamboja perang terus," ujar Prabowo dalam retret Kabinet Merah Putih, di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Selasa 6 Januari 2026.
Prabowo mengungkapkan, target awal swasembada pangan sebenarnya dipatok dalam waktu empat tahun. Namun, hasil kerja tim pangan mampu melampaui ekspektasi tersebut.
"Alhamdulillah, target yang saya berikan kepada tim, tim pangan kita, saya berikan target awal adalah 4 tahun untuk swasembada pangan. Alhamdulillah Desember 31 tahun 2025, waktu 24.00 bisa kita dengan resmi mengatakan di tahun 2025 RI swasembada beras," kata Prabowo.
Ia juga menyampaikan
capaian bersejarah lain berupa cadangan beras pemerintah yang kini mencapai level tertinggi sejak Indonesia merdeka. Menurutnya, angka tersebut melampaui capaian pada masa pemerintahan sebelumnya.
"Hari ini cadangan beras kita di gudang-gudang pemerintah lebih dari 3 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia. Ini saya kira adalah akibat kerja keras semua unsur," jelasnya.
Selain pangan, Prabowo menekankan pentingnya swasembada energi sebagai fondasi berikutnya. Ketergantungan energi dari negara lain, kata dia, akan membuat Indonesia rentan secara ekonomi dan politik.
"Selain swasembada pangan, dasar selanjutnya adalah swasembada energi. Kalau kita tergantung dengan negara lain untuk energi, tidak mungkin kita makmur, tidak mungkin kita lepas dari kemiskinan," kata dia.
Prabowo juga mengingatkan pengalaman pandemi covid-19 ketika banyak negara menutup akses perdagangan. Kondisi itu, menurutnya, menjadi pelajaran penting bahwa kemandirian pangan dan energi adalah kebutuhan strategis, bukan sekadar pilihan kebijakan.