14 February 2026 00:34
Aliran Sungai Cisadane tengah menghadapi ancaman lingkungan serius setelah 20 ton cairan pestisida mencemari air hingga radius 22,5 kilometer. Pencemaran ini merupakan dampak dari kebakaran sebuah gudang pestisida di Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan, Banten, pada Senin, 9 Februari 2026 lalu.
Pencemaran dilaporkan meluas ke tiga wilayah utama, yakni Kota Tangerang Selatan, Kota Tangerang, dan Kabupaten Tangerang. Dampaknya langsung dirasakan oleh ekosistem sungai dan masyarakat sekitar. Sejumlah warga melaporkan fenomena ikan-ikan yang mendadak mati serta perubahan kualitas air sungai.
Bagi pelanggan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), pencemaran ini sempat mengganggu distribusi air bersih. Warga mengeluhkan air PDAM yang berbau menyengat dan tampak tercampur minyak.
"Untuk konsumsi saya belum berani, sementara hanya untuk mandi dan cuci piring," ujar Chun Yo, salah satu warga terdampak.
Direktur Utama PDAM Tirta Benteng, Doddy Effendi, menyatakan pihaknya sempat menghentikan sementara distribusi air kepada para pelanggan, mengingat Sungai Cisadane merupakan sumber air baku utama yang digunakan untuk pengolahan air bersih. Namun kini telah dibuka kembali secara bertahap, setelah hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kualitas air mulai memenuhi standar.
Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, yang meninjau langsung lokasi gudang di kawasan Taman Tekno BSD, mengungkapkan temuan mengejutkan. Berdasarkan hasil investigasi, gudang tersebut tidak memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Menurut Hanif, ketiadaan IPAL merupakan kesalahan fatal, terlebih gudang ini menyimpan bahan kimia yang seharusnya memiliki standar pengelolaan limbah yang ketat.
| Baca juga: Gas Diduga Beracun dari Gudang Pestisida Terbakar Ancam Tangsel, KLH Terjunkan Tim |