Jakarta: Kehidupan yang seimbang antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi impian banyak orang. Kondisi fisik dan mental yang sehat tentu menjadi harapan bersama. Namun, realitas di lapangan sering kali tidak seindah yang dibayangkan.
Tak jarang seseorang larut dalam pekerjaan tanpa menyadari waktu yang terus berjalan. Akibatnya, waktu istirahat berkurang dan perlahan berdampak pada kondisi fisik maupun kesehatan mental.
Alasan Work-Life Balance Sulit Diterapkan
Lantas, apa saja faktor yang membuat
work-life balance terasa sulit diwujudkan? Berikut penjelasannya, seperti dikutip dari laman
Taploker.
1. Beban Kerja yang Semakin Tinggi
Salah satu penyebab utama sulitnya menjaga
keseimbangan hidup adalah tingginya beban kerja. Target dan tenggat waktu yang ketat membuat banyak pekerja harus mengorbankan waktu pribadinya. Globalisasi turut memperketat persaingan kerja, sehingga karyawan merasa harus bekerja lebih keras agar tidak tertinggal dari rekan maupun kompetitor.
2. Pola Kerja di Era Digital
Perkembangan teknologi membawa perubahan besar dalam
dunia kerja. Saat ini, pekerjaan dapat dilakukan dari mana saja, termasuk dari rumah. Di satu sisi hal ini memberi fleksibilitas, namun di sisi lain justru mengaburkan batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Pesan singkat, email, hingga rapat daring sering muncul di luar jam kerja, membuat banyak pekerja sulit benar-benar beristirahat. Akibatnya, waktu pemulihan mental semakin berkurang dan keseimbangan hidup pun terganggu.
3. Tekanan Ekonomi dan Kebutuhan Hidup
Tekanan ekonomi juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Biaya hidup yang terus meningkat, cicilan, serta tuntutan keluarga membuat banyak pekerja merasa harus menambah jam kerja atau mencari pekerjaan sampingan. Fokus pada penghasilan akhirnya menggeser waktu untuk diri sendiri dan keluarga.
4. Budaya Kerja yang Menuntut Hasil Maksimal
Di banyak perusahaan, produktivitas sering kali menjadi tolok ukur utama. Lembur dipandang sebagai bentuk loyalitas, meski secara perlahan menggerus keseimbangan hidup.
Pekerja yang mencoba menjaga
work-life balance kerap merasa khawatir dicap kurang berdedikasi. Akhirnya, mereka memilih mengikuti ritme kerja yang melelahkan demi menjaga citra profesional.
5. Perbedaan Cara Pandang Antar Generasi
Setiap generasi memiliki pandangan berbeda mengenai work-life balance. Generasi milenial dan Gen Z umumnya menginginkan
fleksibilitas kerja yang lebih besar dibanding generasi sebelumnya yang terbiasa dengan jam kerja konvensional.
Meski kesadaran akan pentingnya keseimbangan hidup semakin meningkat, realitas
dunia kerja yang masih kaku, tekanan global, serta tuntutan ekonomi membuat penerapannya tetap menjadi tantangan.
Apakah Work-Life Balance benar-benar tidak bisa diterapkan?
Lantas, apakah
work-life balance benar-benar tidak bisa diterapkan? Pada dasarnya, keseimbangan hidup tetap dapat diupayakan melalui langkah-langkah sederhana, seperti:
- Menetapkan batas yang jelas antara jam kerja dan waktu pribadi
- Mengatur prioritas tugas berdasarkan tingkat urgensi
- Memanfaatkan waktu istirahat secara penuh tanpa gangguan pekerjaan
- Mengelola stres melalui olahraga atau hobi
- Membiasakan komunikasi terbuka dengan atasan terkait beban kerja
Dengan kesadaran dan komitmen bersama,
work-life balance bukan sekadar konsep ideal, melainkan sesuatu yang perlahan bisa diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Jangan lupa saksikan
MTVN Lens lainnya hanya di
Metrotvnews.com.
(Adrian Bachtiar)