Sumbu Filosofi Yogyakarta Miliki Makna Antara Manusia, Alam dan Sang Pencipta

7 July 2026 16:06

Sumbu Filosofi Yogyakarta bukan sekedar rangkaian bangunan bersejarah, tetapi sebuah tata ruang kota yang sarat akan makna tentang kehidupan manusia, alam, dan Sang Pencipta. Pengakuan sebagai warisan budaya UNESCO menjadi momentum penting untuk melihat bagaimana nilai budaya tersebut tetap hidup di tengah perkembangan kota.

Di tengah perkembangan kota tumbuh berbagai peradaban modern yang kian cepat. Salah satunya adalah budaya. Yogyakarta tak hanya dikenal sebagai Kota Pelajar, namun di sini juga tumbuh sebagai kota budaya. Salah satu yang kini resmi lahir sebagai warisan budaya dunia dan sudah diakui oleh UNESCO adalah tentang Sumbu Filosofi Yogyakarta.

Sumbu filosofi lahir bukan hanya sebagai bangunan bersejarah atau tata ruang kota saja, namun sebuah warisan budaya yang penuh dengan filosofi tinggi. Sumbu Filosofi Yogyakarta juga bukan hanya sekedar sebuah garis lurus yang membentang dari Panggung Krapyak, Keraton Yogyakarta, Malioboro, dan Tugu Yogyakarta, melainkan tentang sebuah makna mendalam yang berkaitan dengan hubungan manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Kepala UPT Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta, Aryanto Hendro Suprantoro menerangkan, Sumbu Filosofi Yogyakarta yang merupakan mahakarya dari Sri Sultan Hamengkubuwono I ini memiliki tiga makna filosofi, yakni Sangkan Paraning Dumadi, Hamemayu Hayuning Bawono, serta Manunggaling Kawula Gusti.

“Mungkin secara garis besar sumbu filosofi ini kan merupakan kekayaan budaya bagi masyarakat Yogyakarta yang berupa sumbu atau garis lurus kalau yang sekarang itu berupa jalan gitu ya, yang diwujudkan dalam bentuk jalan kalau yang kita kenal sekarang, yang membentang dari Panggung Krapyak, Keraton, dan dari Tugu ke Keraton, dan Keraton sebagai pusat apa simbolik dari seluruh unsur pemaknaan sumbu filosofi itu.” kata Kepala Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofi, Aryanto Hendro Suprantoro, dikutip dari tayangan Metro Siang, Metro TV, Selasa, 7 Juli 2026.
 



Meski Sumbu Filosofi Yogyakarta sudah diakui sebagai warisan budaya dunia dan diaplikasikan sebagai simbol-simbol bangunan serta tata ruang kota, namun belum banyak wisatawan yang mengetahui tentang Sumbu Filosofi Yogyakarta itu sendiri. Salah satunya adalah Kusno, wisatawan asal Solo yang tengah berlibur di Kota Yogyakarta. Ia mengaku belum sepenuhnya mengetahui tentang Sumbu Filosofi Yogyakarta. Ia juga berharap agar di setiap sudut-sudut ruang sumbu filosofi terdapat guide yang dapat menjelaskan tentang makna dari Sumbu Filosofi Yogyakarta.

“Dulu pernah denger sih tapi sekilas aja, Itu cuma kayak apa ya, posisi dari Keraton, Tugu, sama Pantai Selatan,” ucap Wisatawan asal Solo, Kusno.

Meski demikian masyarakat juga dapat melihat melalui replika Tugu Golong Gilig yang dibangun di area kawasan Tugu Yogyakarta. Dari situlah masyarakat juga dapat mengetahui tentang penataan garis lurus Sumbu Filosofi Yogyakarta. Sementara penetapan Sumbu Filosofi Yogyakarta juga dinilai memiliki arti penting secara universal. Dari Sumbu Filosofi Yogyakarta tidak hanya memahami makna tentang arti kehidupan, tetapi juga sebagai warisan dan cagar budaya yang harus terus dijaga bersama-sama untuk dilestarikan.

(Nopita Dewi)


Close Ads X
Close Ads X